Kamis, 24 November 2011

Hunting Buku

Hari ini aku pergi ke toko buku, dr sekian banyaknya aktivitas yang tidak kusukai di sini, ke toko buku merupakan salah satu pengobatnya. Sehabis dari sana rasanya aku bahagiaaa bgt, terlebih aku menemukan buku yg selama ini kuingini.
Well, inilah list buku2 yg kubeli hari ini:
Problem at Pollensa Bay by Agatha Christie
Taj Mahal by John Shors
Sketsa by Ari Nur
Detektif Conan vol. 64 dan...
Death on the Nile by Agatha Christie juga.

:-D :-D :-D
Published with Blogger-droid v1.7.4

Selasa, 08 November 2011

Pada 1 detik yang sama
Mata kita bertemu mesra
dan kulihat cinta terlukis di sana
Pada satu detik yang tak pernah ada
aku hanyut dalam asa
terbang ke istana surga

Di saat yang selalu kutunggu hadirnya
Ternyata dia tak ada
merebak kecewa
namun tak bisa berbuat apa-apa
sungguh mencinta itu berarti siap menderita
Published with Blogger-droid v1.7.4

Jumat, 04 November 2011

Devi on Goodreads

Hari ini ga sengaja nyasar ke Goodreads, lalu tiba2 aja tertarik buat gabung. Tapi baru sempat ngereview satu buku, kalau mau baca, ini dia
Galaksi Kinanthi: Sekali Mencintai Sudah itu Mati?Galaksi Kinanthi: Sekali Mencintai Sudah itu Mati? by Tasaro

My rating: 5 of 5 stars


Aku suka banget buku ini, karena aku suka langit dan astronomi. Apalagi ketika membaca kata2 romantis yg mengeksplore malam, bulan, dan bintang2. Aku juga suka dengan konsep cinta Kinanthi, "hanya sekali sesudah itu mati". Buku ini tlah memanggil keluar berbagai emosi dr dlm diri, kadang aku senang sampai tersenyum dan tertawa sendiri, tp di bagian lain aku bisa sedih hingga tak terasa air mata meleleh di kedua sudut mata, di sisi lain aku juga bisa gemas, marah, hingga memaki2.

Sensasi2 inilah yang membuatku jatuh hati hingga membawa bukunya kemanapun aku pergi. Karena di saat aku kangen, aku bisa langsung membuka dan membaca ulang bagian2 yg kusukai.

Juga ketika down, otomatis aku akan mengingat betapa susah perjalanan hidup Kinanthi dan betapa besar perjuangannya untuk mengubah takdir.

Mimpi, harapan, dan cintanya tlah mengilhamiku untuk menjadikan hidup lbh hidup. Terima kasih kpd Mas Tasaro karena tlah menciptakan buku sehebat ini.



View all my reviews

Sebenarnya masih banyak buku yg telah, sedang, dan ingin kureview, tp terhalang oleh banyaknya tugas yg belum kuselesain. Jadi terpaksa deh dipending dulu, nunggu ada waktu luang..
Published with Blogger-droid v1.7.4

Cinta di Sepotong Mangga

Ini lanjutan cerita kemaren sore.

Setelah capek nyanyi2 sambil ngeliatin hujan, perut terasa keroncongan, terus aku ingat kalau aku punya 2 mangga. Setelah dicuci, kukupas sendiri, potong semuanya sendiri, lalu nawarin ke kamar2 yang masih berpenghuni. Akhirnya sisa separo, kubawa ke kamar lagi dan menikmatinya sendiri.
Saat makan bayangan mama melintasi pikiran. Ingat kalau di rumah, setiap kali aku ingin mangga selalu mama yang ngupasin, dan kalau aku sedang mengerjakan sesuatu dan enggan mengotori tangan, mama pun akan menyuapinya langsung ke mulutku.

Dan kadang2 kalau ada mangga yang manis dan hambar kyk punyaku kemaren, mama akan ngasi tau aku yang mana yg manis, tak masalah kalau beliau cuma makan yang ga enak, yang terpenting anaknya dapat yang terbaik.

Setelah itu aku langsung ambil handphone dan menelpon mama.
Dering pertama, tak ada jawaban
Dua..
Dan seterusnya

-Mama, aku kangen kamu. Mama, aku mencintaimu-
Published with Blogger-droid v1.7.4

Lagu Kenangan Ketika Hujan

Kemaren sore ketika teman2 sudah pulang aku tinggal sendiri di kamar. Awalnya sedih, namun tiba2 hujan turun, akupun dengan lirih menyenandungkan lagu kenangan bersama teman semasa sekolah dulu.

"deras hujan yag turun mengingatkanku pada dirimu, aku masih di sini untuk setia.."

Entah siapa penyanyinya aku sudah lupa, pun liriknya cuma bagian itu yang kuingat. Mengapa kita suka lagu itu karena kita suka novel Ari Nur, Diorama Sepasang Al-Banna dan Dilatasi Memori. Nah, potongan lagu itu ada di buku yang kedua, dinyanyikan oleh anak tokoh utama -Riyan dan Rani- saat pernikahan orang tuanya terancam karena kesalahpahaman. Aku lupa siapa nama anaknya, yang jelas dia masih kecil, imut juga cerdas. Dia nyanyikan lagu itu dengan gayanya yang cadel, maka jadilah..

"delas hujan yg tulun mengingatkanku pada dilimu, aku macih di cini untuk cetia.."

Lucu ya?? :-*
Published with Blogger-droid v1.7.4

Minggu, 04 September 2011

Kakak Masa Kecil

Seperti sebelum-sebelumnya, yg dia lakukan hanya berdiri di luar jendela sambil memperhatikanku mengeja aksara.
Lima menit.. atau sepuluh menit, selama itu pula aku akan terdiam. Adakalanya jika sudah terlalu lama aku akan meminta guru mengajiku untuk menyuruhnya pergi, namun seringkali dia tetap bergeming, memamerkan senyum jailnya dan sedikit sekali saat iya patuh, melenggang pergi, namun tetap dengan senyum yang sama.

Jika beruntung, kadang aku tak menyadari keberadaannya. Sore itu, setelah menutup dan mencium kitab suciku, aku tersenyum menang pada guruku sambil berkata, “kakak hari ini tak ada”. Beliau menjawab, “ada, cuma kau terlalu fokus hingga tak memperhatikannya”.
Meski heran aku tetap tersenyum pada guruku, kali ini senang bercampur malu. Ya, aku memang seorang gadis kecil yg pemalu, hingga tak punya nyali untuk melantangkan suara mengaji di depannya.

Itulah kenangan yang kuingat tentangnya, tentang kakak berkulit putih, berwajah cerdas. Sampai aku lupa kapan terakhir kali melihatnya ada di desa.
Setelah itu aku tak pernah memikirkannya, karena saat itu aku tak lebih dari anak kelas 2 SD yang terlalu asik dengan dunia bermain, yang kutau dia pergi kuliah ke Jakarta.

Hingga bertahun-tahun sesudahnya, di suatu pagi menjelang idul fitri, aku kembali melihat siluetnya. Awalnya aku tak percaya, tapi stelah meyakinkan untuk kedua kali, ternyata itu memang dia. Seketika ingatanku kembali ke masa lalu, dan tiba-tiba saja aku merindukan kenangan kecil itu. Maka jadilah setiap tahun, menjelang lebaran tiba, aku akan mulai mencari-cari sosoknya, tentu hanya untuk melihatnya, karena aku tak pernah berani menyapa, atau sekedar tersenyum padanya. Aku juga sangsi apakah dia masih mengingat dan mengenaliku.

Tak sedikit pencarian itu juga berujung kecewa, seperti lebaran kali ini, dia tak ada. Kudengar kabar kalau dia sudah bekerja di pelayaran, terapung-apung di samudera, singgah di berbagai pelabuhan di dunia.
Dan untuk kesekian kalinya kenangan itu memutar di kepala, menjadikannya semakin tak terlupa.

Sabtu, 03 September 2011

Bintang, Astronomi dan Mimpi

satu-satunya akses ke langit cuma jendela di ujung lorong asrama ini, itupun berteralis besi, mengganggu sekali. langitku tak lagi sama, karena sekarang aku berada di tempat yang berbeda, pikirku. tak ada gemerlap bintang, bulan pun bersinar redup diselimuti awan.

namun sekarang, saat aku berada di tempat yg sama, aku menyadari kalau ternyata langitku memang sudah benar-benar berubah.
***
bertahun-tahun lalu, di malam hari yang terang aku akan sangat menikmati duduk sendiri di pinggir sungai atau di atas keramba ikan yang mengapung di atas sungai sambil mendongakkan kepala ke langit.
selalu dengan reaksi yang sama, impresif. maka aku pun mulai menghitung jumlah bintang, dan ketika hitungan telah mencapai seratus lebih, untuk kesekian kali, aku terhenti. kegiatan pun senantiasa kuganti dengan mencari bintang yang paling terang, sekali2, kutemukan bintang yg cahanya terlihat gemerlapan, memancarkan warna-warni yg berbeda. saat itu hal yang paling kuimpikan di dunia ini adalah, menjadi seorang astronom. aku ingin mengetahui nama bintang-bintang tersebut, menunjukkan jari telunjuk ke langit, melukisnya hingga membentuk rasi-rasi bintang.
***
maka di sinilah aku sekarang, tinggal di sebuah asrama, kuliah di jurusan ahwal syakhsiyah, fakultas syariah. sempat terpikir, darimana dulu aku belajar romantisme itu, romantisme ketika menyaksikan meriahnya langit, padahal ketika itu aku tak lebih dari anak SD berumur sekitar 8-9 thn.
mungkin suatu waktu kau harus meyakini dan terpaksa menerima bahwa mimpi selamanya akan tetap menjadi mimpi, hanya mimpi.
 ***
suatu sore, ketika kenangan itu kembali membanjir.

aku berlari ke kamarku dulu, di lantai atas rumahku, membuka lemari berisi buku2, berusaha mencari sebuah binder yang sangat lekat dengan mimpi itu. binder yg sewaktu MTs selalu menyertaiku, terlebih ke perpustakaan.
kubaca ulang, lembar demi lembar, di dalamnya kutemukan berupa-rupa catatan tentang astronomi juga mitologi yg kusalin dari ensiklopedi tebal yg terdiri dari 9 jilid.
tidak terlalu lengkap, namun cukup membuatku sadar betapa mimpi itu dulu begitu kuat.

Kamis, 01 September 2011

Lebaran dan Tradisi Salam-salaman.

lebaran telah kulewati dengan cukup baik, kembali mengevaluasi. bukan, bukan soal pahala, tp berapa orang yg sudah kusalami, kumintai maaf.
selalu sama, malamnya diwarnai perdebatan dgn org tua yg memaksaku ikut berkunjung ke rumah-rumah sanak keluarga dan selalu berakhir dengan aku yg mengalah.
malam smpai sepagian hari itu setiap bertemu orang2 aku akan menyodorkan tanganku sambil menyunggingkan senyum di wajah, mungkin senyum palsu, karena di benakku aku trs mengeluh, ''siapa lagi? berapa lagi? sudahkah semuanya? adakah kerabat yg terlewatkan?"

momen itulah yg trs menghantui lebaranku, membuatku tidak betah. aku pun tak tau mengapa aku tak pernah menyukai ide itu, aku muak saat aku harus memasang raut wajah polos, menyalami orang satu per satu dgn senyum terkembang. trus terang jika punya pilihan, aku akan lebih menyukai untuk semalaman dilanjutkan seharian berada di dlm kamar.
well, tepatnya bukan tak punya pilihan, tapi aku akan trs jd sosok yg dikalahkan..

Selasa, 30 Agustus 2011

Sepak Bola dan Patriotisme

Malam ini akhirnya gw menamatkan novel 11 Patriot karya Andrea Hirata dengan mengulangnya dari awal, setelah sebelumnya sempat membaca beberapa halaman, lalu kupinjamkan kepada teman, yah, gw pikir gapapa lah selagi gw masih punya novel lain yg bisa dibaca.

Dari dulu gw selalu berpikiran kalau sepak bola merupakan permainan yg membosankan, gw juga heran bagaimana seseorang bisa begitu tergila-gilanya pada sepak bola. Namun, setelah membaca buku ini pikiran gw itu langsung dijungkirbalikkan.

Kalian tau kalau ternyata dulu masyarakat pribumi juga melawan para penjajah melalui olahraga ini? Tak terbayang bagaimana sakitnya ketika hari ini bangsa kita memenangkan pertandingan, namun besoknya sudah harus merelakan nasib tak bisa bermain di lapangan karena dibuang ke pulau-pulau, disiksa di tangsi, dan yang lebih parah karena tempurung kaki yg hancur. Sampai di sini air mata gw merembes, tak bisa menahan tangis.
Sepak bola bukanlah sekedar 22 orang lelaki ganteng kurang kerjaan, berlari tunggang langgang, bertabrakan tak karuan, demi memperebutkan sebuah bola. 
Persis kalimat itulah yg ada di benak gw selama ini, dan tiba2 saja saat melihatnya tertulis di buku itu, kata2 tersebut otomatis terdengar sarkastik, menghantam gw telak, maka malam ini gw merasa jadi orang yg paling picik di dunia.

Ada banyak hal dalam sepak bola, jika di dunia ini ada hal menakjubkan lain selain cinta, maka itu adalah sepak bola.
Dan jika kau mencintai PSSI, maka 10% adalah mencintai sepak bola dan 90% nya mencintai Indonesia.
Jika sepak bola memang mempunyaii jiwa, maka tidak lain jiwa itu adalah patriotisme.

Begitu banyak kalimat Andrea yang menghinotis di buku ini, sehingga dengan mudah membius hati serta pikiran gw. Dari sekarang, gw berjanji tidak akan pernah merendahkan sepak bola lagi, terlebih PSSI, dan akan berusaha menyukainya dengan sepenuh hati.

Indonesia tanah airku, tumpah darahku, tawa serta tangisku, putih tulangku, merah darahku. Mari bersama kita sorakkan, “Indonesia aku datang, Indonesia kau menang!!”

Senin, 29 Agustus 2011

Manusia dan Narsisme


Seperti biasa yg semua orang lakuin, gw juga ngelakuin itu, knapa?? Karena gw normal, itu jelas.
"trs itu itu apa??!!"
Well.. yg gw maksud dgn itu adalah menyempatkan diri cuci mata d facebook di sela-sela ngeblog. Gw semakin yakin kalau fb itu punya daya tarik magis dan yg gw pertanya-tanyakan sekarang, "Si Mark itu gunain MANTRA apa!?!??!

Cukup bahas soal mantra!

Karena otak gw yg sebagiannya memang tlah diisi oleh Harry Potter, secara tidak sadar langsung berspekulasi dan menderet mantra2,
dari accio
expect patronum
lumos
prior incantatem
alohomora
wingardium leviosa
petrificus totalus
sampai avada kadavra…

Oh! Oh! Kesadaran menelisik gw seketika, jelas diantara semua itu ga ada yang mungkin, bahkan untuk sekedar dipertimbangkan.
Tu kan ngaco lagi, ehm, balik ke masalah fb. Tadi secara ga sengaja gw liat foto teman MTs gw, -yg ga tau apa itu MTs mohon diem aja, krena gw ga bakal ngasi tau kalau MTs itu salah satu jenjang pendidikan yg dalam bahasa gaulnya disebut junior high school.

“Lalu, ada apa dengan foto teman gw tadi??”

Begini, gw agak shock pas liat foto dia. Bukan.. tentu sja bukan karena gw iri karena dia kalah cantik, kekek. Melainkan karena ngeliat kenarsisannya.
Ya ya, ga usah diinterupsi!
Gw sadar betul kalau narsis juga merupakan hak setiap manusia, sebagaimana pendidikan, namun gw benar2 sangsi kalau narsis suatu saat nanti bakalan menjelma jadi salah satu pasal dlm UUD.

Jujur, dalam hati gw masih  menyimpan ketidakpercayaan, “bagaimana bisa si narsis ini juga menjangkiti teman2 gw yg dulunya polos, bahkan sangat polos!?

Ga pernah terbayang, bahkan dalam imajinasi terliar gw bahwa beberapa diantara mereka bakal melepas kerudung mereka dengan mudahnya. Mungkin ada yg berkomentar, “ah, biasa aja..”
Mungkin iya, bagi anak sekolahan biasa, tp bagi santri?! Sama sekali ga. Itu merupakan salah satu hal yg paling dikecam di pesantren. Kerudung diibaratkan simbol kehormatan wanita.

Gw bukan manusia hipokrit, gw akui gw juga punya sifat narsis, tp mgkn ga seekstrem itu. Ga percaya? Liat aja foto profil fb gw yg entah udh brp bulan ga ganti, kekek.
Trs, apa yg gw bisa lakuin buat temen2 gw ini? Ada beberapa opsi:
Menasehati? Takut dikatain sok alim.
Memarahi? Ini privasi yg ga berhak gw intervensi.
Emm, mungkin pada akhirnya, lagi2, cuma doa yg bisa gw berikan untuk mereka.

I'm back

Udah lama nih ga meregangkan otot dengan menulis, jari-jari gw pun rasanya kaku bergerak di atas keyboard.
Blog ini kasian banget deh, kalau diibaratkan rumah, mungkin sudah dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Eww.. ok, ok, gw tau, itu perumpamaan yang lumrah benget, well.. gw emang belum terpikirkan metafora baru yg pas. Emm, mungkin memang ga ada, atau… fantasi gw aja kali yg kelewat rendah. Uh! Hate to say it!!

Nah, back to main topic mengapa sekarang gw nulis, ehm, jd begini, sekarang gw punya komitmen baru tuk rajin ngisi ni blog, walaupun dengan tulisan ringan yg seringan-ringannya, ya minimal mengekspresikan perasaan. Emang melenceng sih dari niat awal, well, gw pikir daripada membuat menulis jadi kegiatan yg berat dan akhirnya malah ga jalan2, mending menuliskan apa yg ada di hati ataupun yg terlintas di pikiran, sesederhana apapun itu, karena pada akhirnya yg terpenting dari kegiatan ini kan adalah membuatnya agar terus berjalan. Bener ga!?! Gw tau gw bener, bahkan penulis2 hebat di dunia pun bakal mengamininya dgn takzim.
...
*terhenti
#bingung, “lalu sekarang gw nulis apa lagi!?!?!”

Minggu, 05 Juni 2011

Cerita Manis di Minggu yang Hangat

"Bapak..." kupanggil bapak di seberang jalan sambil melambaikan tangan.
beliau pun mengerti dan segera mendatangi, lalu...
beliau sodorkan koran itu, Jawa Pos.
*aku memutar bola mata
"Kok tau Pak aku mau beli JP?" tanyaku heran.
"Kan mba'e emang selalu beli ini" beliau menjawab dengan tersenyum.
"Wah, ingat ya Pak?" seraya tertawa.
ya iyalah mba'e..."
"Ya sudah, makasih Pak"
"Sama."

Dialog terhenti, pikiranku kembali ke masa kini.
Pagi ini kembali kutemui Bapak itu dan sekarang aku pun telah mengingat wajahnya. Padahal dulu aku tidak pernah menyadari kalau Bapak yang korannya kubeli itu merupakan orang yang sama. Karena aku kira orang yang berjualan di persimpangan jalan itu selalu berbeda, terlebih aku hanya membelinya setiap Minggu dan terkadang Sabtu.
Pasalnya, cuma dua hari itu aku bisa menikmati udara pagi Kota Surabaya, selebihnya tidak bisa karena ada kelas intensif bahasa yang masuk pada jam 06.00.

Aku selalu menikmti momen-momen itu, ketika aku berjalan atau bersepeda sendiri. Menyapa bapak-ibu atau kakek-nenek yang lalu lalang, atau hanya sekedar menebar senyuman.
Rasanya ingin berkenalan dengan semua orang yang kutemui di jalan.



Pagi yang sejuk, dipenuhi dengan orang-orang yang berhati baik.
Kembali teringat satu momen haru di suatu Minggu.

Uang di dompet tinggal sedikit, terpaksa harus mampir ke ATM dulu. Dan ternyata ATM di kampus sedang tidak bisa digunakan.
Duh, bagaimana ini? Aku tidak biasa meminjam, bahkan untuk menyuarakannya pun aku sangat sungkan.
Ah.. Mustahil di sekitar sini tidak ada ATM lain.
Kuhampiri pos jaga gerbang kampus. Kutanyakan hal ini kepada satpam yang juga sudah lumayan kukenal lewat perbincangan-perbincangan sederhana, pun di Sabtu dan Minggu pagi.
"Pak, di sekitar sini ada ATM lain ga? Soalnya yang di kampus lagi ga bisa digunakan "
"Oh, ada mba, itu di seberang sana, di kampus Ubhara."
"Hm.. di sana ya? Kalau di seberang berarti harus melewati jempatan penyeberangan, lalu sepeda ini kuapakan? Walau hanya sepeda lipat dan ada jalur sepedanya, tetap saja susah menyeretnya menaiki tangga." pikirku.
"Emm... Pak, aku boleh minta tolong nitip sepeda di sini ga?
"Monggo mba'e" jawabnya dengan logat Jawa.
"Makasih ya Pak" kuucapkan dengan tulus sembari tersenyum, lalu kuparkirkan sepeda di tempat yang Bapaknya tunjukkan.
"Ga perlu dikunci kan Pak" tanyaku lagi.
"Iya, ga usah. biar Bapak yang jagain.
 Hehe..

Sampai di seberang, ternyata gerbang kampusnya ditutup. Oh dear... ga mungkin kan kalau aku manjat tu pagar, bisa-bisa nanti ditangkap satpam yang juga berjaga di sana.
Aku pun mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil tetap melangkah perlahan, skeptis harus kemana. Tidak lama, aku berpapasan dengan Bapak yang kalau tidak salah ingat berseragam pegawai pos.
Nekat kutanyakan perihal ini ke bapak itu.
"ada, di sana mba.." jelas beliau sambil menunjuk lurus ke depan.
"ohh, makasih ya Pak." balas q. Trus setelah ketemu aku nyeberang lagi, ambil sepeda di pos satpam, n ngelanjutin perjalanan berburu koran. Pas mau lewat depan expo, ternyata jalan ditutup, sepeda katanya ga bisa lewat. Aku ketemu ibu2 dengan suami dan ketiga anaknya. Ibu itu nyruh aku markir sepeda di dekat motornya. Katanya, biar dia yang jagain karena kukira aku lupa bawa kunci. Eh, setelah dicari2 lagi ternyata ada, saat aku mau ngunci, aku meraba2 tali tas di punggung, karena kesulitan tiba2 ibunya yang masangin tas itu ke tanganku. Aku takjub dengan sikapnya, rasanya dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Yg lebih ajaibnya lagi, ibunya nanyain aku pergi sama siapa, ibuku mana, kenapa ga jagain aku. Speechless, apa aku ga terlihat seperti mahasiswa ya sehingga bersepeda pagi2 gitupun harus bareng ibu??? Haha.. Lucu, tp yg pasti tetap mengesankan bertemu org2 baik di pagi Minggu.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Jumat, 03 Juni 2011

Ibu..

Ibu…
Kasihku terurai lewat goresan tinta,
mengkristal di atas perkamen tanpa warna.
Ibu…
Rinduku meletup-letup dalam dada,
berderai air mata kusenandungkan berbait-bait doa.


Ibu…
Sayangku berupa-rupa upaya,
di setiap derap langkah perjuangan kulukiskan cita,
tuk membuatmu bangga,
membuatmu bahagia,
hingga terbitlah tawa seraya bersabda…
"Lihatlah kalian, ini anakku tercinta."

Ibu…
Dalam jaga imajiku mengelana,
terbang beribu kilometer jauhnya,
hingga kucapai bayangmu dari sudut mata.
Dengan berlari kudekap raga dan kukecup mesra.
Hamburan kata dalam relung jiwa mendesak paksa,
namun, dari bibir tak kunjung keluar suara.
Ia bergeming.
Biarlah kerinduan ini mengalir tanpa kata..Biarlah keheningan menyelimuti kita berdua...

Selasa, 17 Mei 2011

Trending Topic of the Week: DEMO!!

Aku tlah diciptakan, dan suatu saat pasti akan dimatikan.
Aku menyatu dengan kehidupan, menjadi pemain atau hanya sekedar menyaksikan.
Aku punya pilihan.
Aku luluh bersama kejadian demi kejadian, terus menyusut sampai waktuku usai, hingga lenyap ditelan kefanaan.

***

Dan kemarin aku menyaksikan sebuah kejadian baru di depan mataku, yakni DEMO!

Teriakan bersahut-sahutan
Nyanyian menggema, bernada peperangan
Merambat ke sudut demi sudut ruangan
Mengagetkan setiap orang yg sedang hanyut dalam pusaran pengetahuan
Brak! 
Pintu pun membuka
Sang agen masuk
Dengan tatapan tajam menikam setiap orang
Berusaha menundukkan dan menyalakan api yang tersembunyi di balik badan
Namun aku bukan salah satu yg berhasil ditaklukkan.

***

"Mengapa harus dengan demo, teman-teman? Mengapa harus ada teriakan-teriakan? Mengapa harus ada adegan kekerasan –baca: unjuk kekuatan? Apakah para manusia telah melupakan etika hingga kehilangan kontrol atas dirinya?" benakku dipenuhi pertanyaan dan ketidaksetujuan.

Kami mahasiswa dan mahasiswi punya hak untuk menyuarakan aspirasi. Kami tidak rela melihat penyelewengan, dan kami ada untuk membela hak-hak kalian. Dalih mereka.
Aku tau mereka benar, aku tau demo bukan hal yang tabu lagi pada zaman sekarang. Pun jika kita bercermin pada masa lalu bangsa ini juga berbagai peristiwa di negara lain belakangan ini, demo memang merupakan tindakan yang paling efektif untuk memperjuangkan keadilan, menggugat kepemimpinan, serta meruntuhkan sebuah kekuasaan.
Namun bagiku tetap saja hal itu hanya pantas dilakukan saat menghadapi penguasa besar, yang rezimnya melingkupi seantero kawasan. Sedangkan kalau hanya untuk memprotes pelayanan akademik yang katanya tidak sesuai dengan yang dijanjikan, apakah aksi itu tidak berlebihan?
Entahlah… setiap orang mempunyai prinsip yg berbeda. Dan tujuanku menulis ini bukan untuk mencela sesama, aku hanya ingin ikut bersuara, walaupun aku percaya selalu ada jalan damai untuk menyelesaikan perkara. 
Terakhir, jadi teringat satu kejadian konyol, ketika kelas disegel dan kami dipulangkan, aku berjalan beriringan dengan teman-teman, menuruni anak tangga, karena kebetulan kelas hari itu ada di lantai tiga. Lalu tiba-tiba saja serbuan datang dari arah bawah, kami pun lari tunggang-langgang, dengan perasaan shock bercampur takut.

Gillaaa... Kebayang kan gimana lucunynya gan (ngopi gaya kaskuser)?! Setelah itu salah satu temanku berujar, “Olala.. tadi aku serasa berada di kebun binatang, melihat para hewan lepas dari kandang.”

Hening sementara lalu serentak meledaklah tawa.
:D

Ibu, Malaikat yang Dikirim Tuhan Untukku

Jika ibuku disandingkan dengan para Malaikat, para malaikat itu barangkali akan tertunduk lesu, tak sanggup menanggung malu.

Bagaimana tidak, jika mereka yang merupakan makhluk supranatural yang dianugerahi kemampuan spesial dari Tuhan jauh di atas para insan hanya mampu menangani satu kerjaan, sedangkan ibuku? Ah.. walau dia hanya manusia biasa, bukan siapa-siapa, dan barangkali tidak diperhitungkan oleh dunia, namun dia mampu mengambil alih semua tugas mereka, dia ikhlas menyerahkan seluruh hidupnya untuk keluarganya, dan semua itu karena cinta...

Jika Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dan seluruh umat, aku punya ibu yang mengajarkanku hal-hal sederhana namun sangat berharga semenjak balita, ibuku adalah pendidik pertama jauh sebelum guru-guruku.

Jika Mikail bertugas untuk mengatur hujan dan memberikan rezeki untuk penduduk bumi, aku justru merasakan rezeki itu dari tangan ibuku sendiri. Karena dari tangannya terhidangkan beraneka ragam makanan untuk aku dan keluargaku makan setiap hari, belum lagi ketika anaknya yang manja ini sakit, diapun merelakan tanggannya untuk menyuapi.

Jika Malaikat Israfil itu mendapat tugas untuk meniup sangkakala, maka ibuku setiap saat bersuara, menyuruhku untuk mengaji, mengingatkanku untuk sholat tepat waktu, dan beribadah pada Tuhanku. Uh, lebih mulia bukan? Namun berbeda dengan Malaikat Izrail yang bertugas melenyapkan nyawa, ibuku malah melahirkan sebuah jiwa, berupa manusia. Hmm.. perbandingan terbalik ini justru semakin memperlihatkan kehebatan ibuku dibanding malaikat itu, dan membuat semakin tinggi juga pujiku.

Jika Malaikat Munkar dan Nakir menanyai manusia ketika sudah berada di peristirahatan jasadnya nanti, ibuku sekarang pun senantiasa rajni melakukannya, saat kami bersama selalu ada tanya tentang bagaimana hariku berjalan adanya, dan akupun akan bercerita panjang lebar padanya. Lebih menyenangkan dan tanpa beban tentunya, tidak seperti menghadapi malaikat nanti yang pasti akan penuh dengan peluh dan resah.

Lalu ada juga Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas menulis amal kebaikan dan kejahatan. Yaya.. ibuku memang tidak mencatatnya, tapi jelas dia hapal di luar kepala segala sesuatu tentangku, terlebih dia memahamiku. Dan terakhir, Malaikat Malik serta Ridwan, tentu sudah kita ketahui bersama apa tugasnya, menjaga pintu Surga dan Neraka. Oh dear… bahkan tugas ibuku lebih sulit daripada itu, dia menjagaku agar tak akan pernah meski sebelah kakipun menginjak tempat yang bernama Neraka dan selalu menasihatiku dengan kebaikan agar nantinya di kehidupan sesudah mati aku bisa hidup bahagia, abadi di Surga.


Ah.. sungguh wujud cinta yang manis dan indah sekali. Nah, dari semua analogi di atas itu, tidak berlebihan bukan kalau ibu bagiku merupakan malaikat yang sengaja dikirimkan Tuhan untukku!? :)

Sendiri dan Melarikan Diri

Tuhan...
Harus bagaimana ini?
Menghadapi semuanya ataukah melarikan diri?
Melarikan diri? Biasa dlm kamusku, tapi kali ini aku harus menanggung malu..
Menghadapi dengan berani, bermodalkan nekat, karena aku tidak mumpuni juga bukan tindakan yg tepat.


Meminta pertolongan kepada teman, semuanya menghindar...
Kenapa kenyataan ini harus membangunkanku sekarang?


Dalam mimpiku, teman akan selalu mengulurkan tangan kala aku terjatuh.
Teman selalu berada di samping saat kita butuh.
Ternyata mimpiku terlalu jauh...
Hingga kekecewaan ini untuk kesekian kalinya membuatku roboh...


Pada akhirnya, kita memang lebih baik sendiri..


Tuhan,
mengapa tak kauciptakan aku kuat saja, sehingga tak membutuhkan yg lain selain-Mu?

Kamis, 12 Mei 2011

Test, test...
:)
:p
:~
:L


Mulai stres gara2 emoticonnya ga muncul2..
#sigh...

Cape dari tadi browsing, copas, en berulangkali ngedit html, tapi hasilnya NIHIL. :(
Hoahm... (ngantuk) :O

Tapi rasany ingin menulis saja malam ini..
Aku tidak akan membaca buku, karena itu akan membuatku memejamkan mata..
Aku tidak akan merebahkan kepalaku, karena itu akan membuatku tidur tanpa disengaja..

Persoalannya sekarang, apa yang akan kutuliskan? hahaha :D
lagi ga ada ide nih teman2.. :t

Senin, 09 Mei 2011

Aku lelah..
terus berusaha mengejar bayangmu
dan menanti siluet kehadiranmu...


Aku lelah..
menatapmu dalam diam,
dan mengharapkanmu dalam impian...


Aku lelah..
menghadapi ketidakacuhanmu
dan aku bingung untuk mencuri sedikit saja perhatianmu...
Kulukis wajahmu dlm khayalku
kala rindu tak sanggung kukendalikan...


Aku tau,
kau terlalu baik untukku
terlalu sempurna jika dibandingkan denganku...
Namun tak adakah sedikit saja ruang di hatimu untuk diriku?


Kau begitu berkilau di tengah keramaian
setiap gerakmu mengundang decak kekaguman
dan kata-katamu senantiasa mengundang senyum semua orang...


Sedang aku,
makhluk marginal yang ketiadaannya tak dipertanyakan
tingkahnya seolah-olah memalukan
dan selalu mengundang cibiran...


Kita sama sekali berbeda,
kau dengan sejuta pesonamu
lalu aku... dengan segala kekuranganku...
Apakah ini semua tanda bahwa aku tak layak menyimpan rasa untukmu?


Tercipta dari curahan hati seorang teman.

Jumat, 06 Mei 2011

Niat hati ingin menuturkan berbait-bait puisi manis,
namun yg keluar hanya kata-kata tak puitis..
Niat hati inginkan jadi penulis,
tapi sampai sekarang belum juga satu karyapun kutulis..
Niat hati inginkan sikap kritis,
namun yang tampak hanya tindakan ceroboh yang praktis..
Niat hati inginkan punya pengetahuan luas,
ternyata pengetahuan manusia memang terbatas..
Niat hati inginkan cinta, yang hadir malah luka..


Dia hanya gadis biasa,
yang menyimpan berjuta cita di hatinya
berusaha mewujudkan sebisa dirinya..
Tapi godaan itu slalu saja ada,
mengahadang dalam berbagai bentuk rupa..
Seringkali dia terbujuk rayuannya,
hingga kekalahan menampar wajahnya dan menyadarkannya..
Tapi penyesalan itu senantiasa terlambat datangnya,
terakhir hanya bisa memaki dan meratapi diri atas kejatuhannya...

Rabu, 04 Mei 2011

TEMAN (?)

Sekarang aku hanya ingin bercerita saja, menumpahkan segala rasa yang ada di hati...
Ruangan di sekitarku serasa menghimpit,
mencekik,
hingga sulit tuk sekedar bernafas..
Sakit,
melumpuhkan nurani..


Tak pernah terbayangkan di benakku, walau dlm imaji terliarku terlibat dlm suatu masalah dgn teman dekatku.


Hari-hari dirundung duka,
mengambil alih seluruh fokusku..


Kata-katanya terlanjur melukai, prasangkanya sangat menyakiti..
Memang benar ini bukan soal benar dan salah,
untung dan rugi,
seperti yg disuarakan mereka.
Tapi masalah hati yg terlanjur berdarah,
walau sudah dibalut perban, tetap tak mudah untuk disembuhkan..


Benakku bertanya, bagaimanakah nasib persahabatan ini?
Lalu hati menanggapi, degan pean sekali..


Mungkin takkan sama lagi,
akan ada sekat  di antara kami yg menghalangi tangan ini bisa berpegangan erat kembali...

Selasa, 03 Mei 2011

Tenggelam dalam Kekosongan

Aku semakin jengah dengan segala sesuatu yang berpusar di sekelilingku sekarang
asrama, kelas, orang-orang, terlebih pelajaran..
Seandainya pusaran itu benar-benar nyata, aku rela tersedot ke dalamnya.
Menghilang bersama apa yang ada di sekelilingku, lenyap keseluruhan dalam kekosongan
hingga tidak meninggalkan sedikitpun kenangan..
Aku rela terlupakan dan hidup dalam keheningan asal sisa-sisa eksistensiku tak perlu menyakiti orang-orang yang kutinggalkan..


Tulisan ini kubuat untuk menemani kesendirian di tengah keramaian, saat berada di sekeliling teman-teman. 

Senin, 02 Mei 2011

lagi-lagi...
tatapan itu,
penuh kesinisan dan kebencian.
lalu,
dengan kejam kaupalingkan wajahmu, tanpa peduli sedikitpun bagaimana perasaannya.
kecewa, sedih, dan ada sakit.


bukankah kalian berteman?
atau dari sini bisa disimpulkan kalian tlah bermusuhan??


ingin bertanya namun malu, ingin protes tapi lidahnya kelu.
hanya tertunduk bisu...

Sabtu, 30 April 2011

Ikrarku atas Hidupku

"Apa kau mengharapkanku? Jika iya, aku akan melamarmu."
Pertanyaan yg mengejutkan, membuatku terpana tak percaya, entah apa yg kurasa, yg jelas ekspresi itulah yg pertama muncul ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari orang yang tak terduga.
Lalu, aku harus menjawab apa?
Ok, biar kuselidiki dulu isi hati ini, mengingat-ngingat dan berusaha memunculkan kembali memori atas kenangan yg tlah usang. 

Dan ternyata…

Biasa-biasa saja perasaanku dan tak ada yang istimewa.

Sekarang, ketika cinta itu datang dan berpihak padaku, aku harus bagaimana? Entahlah, aku belum tahu, dan semoga saja di akhir tulisan ini aku akan mendapatkan jawabannya.

Aku sadar prinsipku, aku selalu ingin bebas dan menyukai kebebasan. Karena itulah aku tak suka terikat dengan hubungan semu yang tak jelas kemana arahnya, terlebih saat aku sedang bersamangat menjalani kuliahku dan fokus pada tujuan hidup yang kurancang sedemikian rupa.
Aku tak ingin menyakiti lagi yang menyebabkan akan adanya hati lain yang terluka kali ini. Aku juga tak ingin jatuh di lubang yang sama, dan jelas terlalu tolol untuk mengulanginya, sebab aku sudah tahu betul bagaimana perasaan tertekan dan merasa bersalahnya.
Terakhir, melihat status kami semua, siapa dia, siapa temanku, dan siapa aku..  sepertinya dia memang tak pantas untukku. Aku pasti takkan sanggup menghadapi tatapan menilai dan protes orang-orang yang tertuju padaku.

Ah.. ya, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan sekarang, aku akan lari darinya sebelum segalanya terlampau dekat. Dan aku berjanji akan melakukannya pada semua orang, hingga masanya berakhir nanti. Masa ketika tlah berhasil kuwujudkan mimpi-mimpiku serta tlah mampu kubahagiakan orang tuaku, maka aku juga berjanji akan membuka hati dan diri lagi.
Jadi sudahlah, kumohon jangan mengaharapkanku,  karena aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa tanpa menyakiti hati yang lain, yang aku yakin hal itu takkan bisa kulakukan.


***

Duhai cinta… lepaskan aku dari rengkuhanmu..

Aku ingin bebas, terbang tinggi meraih mimpi, hingga suatu saat nanti mungkin kita kan bersua kembali.. dalam ikatan yang suci..

Atau tidak sama sekali..

Sudahlah, tak mengapa. Karena aku sudah memiliki cinta sejati yang lebih tinggi.

Hingga tiada lagi hari untuk meratapi cinta semu ini..

Wahai rindu… lepaskan aku dr jeratmu.. Karena kerinduanku sebelum ini tak layak dipuji.

Dan sekarang, telah kusadari ada kerinduan baru yang merasuk ke dalam sanubari, rindu yang kuyakini lebih murni, rindu yang tanpa sengaja mampu membuatku menjatuhkan air mata ini, namun itu senantiasa kurasakan dengan senang hati.

Sang Penguasa hati, langit, dan bumi, izinkan aku melihat-Mu di akhirat nanti. Sungguh kuingin sekali menatap keagungan wajah-Mu Ilahi.. Agar kutak perlu merasakan cemburu yang membakar dada lagi ketika semua orang bisa bertemu dengan-Mu sedangkan tidak denganku…

Engkau Nabi, yang mempunyai kelembutan hati, izinkan aku berada di antara orang-orang yang kaukasihi, hingga selaksa rinduku bisa tersampaikan di mahsyar nanti…

Selasa, 26 April 2011

Nyanyian Manusia

"Kamu semula mati, dan Dia menghidupkan 
kamu kembali, kemudian
Dia akan menyebabkanmu mati,
dan Dia akan membangkitkan kamu;
kemudian kepada-Nya-lah kamu akan kembali."
-Alquran 2:28-


Aku hadir dari kebakaan dan kini aku di sini, kehadiranku tiada akan selesai, aku akan menjadi saksi hingga zaman usai.
Aku melayang ke ruang tak terbatas dan mengambil sayap di dunia maya, menyongsong lingkar cahaya kemuliaan; dan sekarang inilah aku, luluh dalam waktu.
Aku mendengarkan ajaran konfusius, memetik kebijakan Brahma dan duduk di samping Budha di bawah pohon kearifan. Dan sekarang aku di sini, meregang ketidaktahuan dan kesanksian. Aku berada di Sinai ketika Tuhan mencurahkan cahayanya atas Musa; di Sungai Yordan aku menjadi saksi kemukjizatan atas Isa; dan di Madinah aku mendengarkan sabda Muhammad kepada orang-orang Arab.
Dan sekarang aku di sini menjadi tawanan kegalauan.Aku menyaksikan keperkasaan Babylon, kejayaan bangsa Mesir dan kemegahan bangsa Yunani; dan aku masih melihat kelemahan, kemerosotan atau perendahan derajat dan penindasan dalam semua karya mereka.
Aku duduk bersama penyihir dari Endor, peramal dari Assyiria, para nabi dari Palestina.
Dan aku masih mesti bersiteguh menyusuri kebenaran. Aku menimba kebijaksanaan yang diwahyukan di India, mendengar kasidah kalbu yang didengarkan penduduk di semenanjung Arabia, dan orkestra yangdihayati sepenuh jiwa di Barat; sebelum aku buta dan tidak dapat melihat, pekak dan tidak dapat mendengar.
Aku bersabar terhadap penindasan para penakluk, menanggung derita di tangan para tiran, dan diperbudak para despot -selagi tenagaku lunglai, aku berjuangdari hari ke hari.
Aku melihat dan mendengar semuanya selagi kecil, mendengar dan menyaksikan semuanya selagi muda dengan kepedihannya kemudian; dan lalu aku tumbuh menjadi tua, menggapai-gapai kesempurnaan, hingga kembali kepada Tuhan.
Aku hadir dari kebakaan dan kini aku di sini, kehadiranku tiada akan selesai, aku akan menjadi saksi sampai zaman usai.
 ***
 
Indah bukan? Itulah syair di lembar pertama buku Kahlil Gibran, Raja yang Terpenjara, yang kudapatkan dari salah satu sudut perspustakaan tua, musium, atau apalah namanya sudah tak lagi kuindahkan, yang kutahu aku sudah menemukan mutiara yang tersimpan di dalamnya.
Dan bagaimana bisa aku tidak terpukau dengan kemilau kata-katanya?
Namun satu yang aku herankan, kenapa pada awal-awal buku itu terselip satu ayat Alquran. Seakan syair tersebut hanyalah merupakan saduran, atau malah sebaliknya. Entahlah..
Tahukah engkau alasannya teman? Jika berkenan tolong berikan tanggapan, dan jangan biarkan aku terjebak dalam kebingungan. :)

Senin, 25 April 2011

Perpustakaan atau Musium??? (part 2)

Namun beda lagi dengan sekarang. Ah.. betapa mudahnya perasaan manusia berubah.
Sekarang aku bisa menemukan sisi lain dari perpus itu, sisi yang setidaknya membuat kakiku enggan untuk beranjak dari tempat itu. Sisi itu adalah rak paling belakang, rak yang memuat buku-buku sastra lama! Entah kenapa aku sedang tertarik untuk menyelami karya sastrawan Indonesia. Di sana ada buku-buku Pramudya Ananta Toer, bapak H.B. Jassin, Kuntowijoyo, dan lain-lain. Belum lagi yang dari luar, ada mahakaryanya Rabindranath Tagore, magnum opusnya Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, dll. Oh dear… aku tecekat karena terpana, dan bahagia saat pertama kali melihatnya, bagaimana tidak jika itu semua merupakan hal berarti yang selama ini selalu kucari-cari?!!
Beberapa dari karya mereka memmang kumiliki, terlebih Kahlil Gibran, tapi entah kenapa terjemahannya menurutku kurang bagus. Ya,  aku sama sekali tidak puas.
Hari itu, setelah lumayan puas melihat-lihat dan sudah memutuskan buku apa saja yang akan kupinjam aku memutuskan untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 12.00, itu berarti sudah kurang lebih 4 jam aku berada di sana (dikurangi waktu ketiduran sebentar, haha..) dan aku baru menyadari kalau badanku terasa lemas karena lapar, sebab dari pagi memang belum makan.
Dengan buru-buru aku turun ke bawah, menyerahkan buku yang mau kupinjam serta kartu perpus kepada petugas. Sambil menunggu proses pencatatan, aku melewati mesin pendeteksi untuk keluar dari bagian dalam perpustakaan, dan tiba-tiba...
Tit, tit, tit, tit, tit, tit…
Semua mata memperhatikanku. Aku gelagapan, sempat termenung karena bingung sebentar lalu cepat-cepat menjauh dari mesin itu. Oh dear… ternyata di tangan aku ada buku perpus yang kupinjam kemaren. Ibu penjaga itupun mengambilnya dengan tatapan sinis, apakah tampangku terlihat seperti tampang seorang pencuri? Mungkin lebih tepatnya tampang orang bodoh. Haha.. jujur, aku tidak tahu kalau buku yang sudah dipinjam pun tidak boleh dibawa masuk ke dalam perpustakaan.
Dalam beberapa saat termenung itu, dengan mata heran orang-orang tertuju padaku, bukannya malu aku malah bersyukur. Di benakku terlintas kelicikan yang kurencanakan dengan temanku kemaren.
Ceritanya begini, kami putus asa pada kenyataan yang memperlihatkan kalau buku yang kami inginkan berstempel kalimat “tidak dipinjamkan”, lalu, langsung saja otak kami yang memang jahat ini merumuskan rencana bejat. Hehe.. kami berniat membawanya kabur. Tindakan yang pernah dilakukan Khairil Anwar pun jadi pembenar untuk meyakinkan rencana kami ini. Kalian tahu teman kalau Khairil Anwar, salah satu sastrawan terkemuka negeri kita pernah mencuri buku di sebuah toko buku? Hebat bukan?! Rencana kami jadi terdengar sangat membanggakan. Haha.. ditambah desas-desus yang beredar mengatakan kalau mesin itu tidak berfungsi.
Ah, tapi lihatlah sekarang, rumor itu ternyata salah besar. Aku bersyukur karena mengetahui kebenaran dan bersyukur bahwa taktik itu batal kami operasikan. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau 2 orang mahasiswa PBSB ketahuan saat berusaha membawa kabur buku perpustakaan?? Olala..
Semua kejadian itu kuceritakan kepada temanku, awalnya wajahnya mengernyit, mungkin karena prihatin, lalu kemudian tawanya meledak, terbahak-bahak menertawakan ketololanku.
Biarlah, aku tak peduli. Yang kurasakan hanya kesenangan karena mendapat pengalaman yang mengasyikkan. Dan satu lagi, aku sudah tidak sabar ingin mengunjungi perpustakaan tua itu lagi :D

Minggu, 24 April 2011

Perpustakaan atau Musium??? (part 1)

‘Mau kemana?”
“Musium dulu”, jawab temanku sembari nyegir.
Itulah julukan untuk perpustakaan kampus kami di kalangan mahasiswa, Musium. hehe..
Kamu ingin tahu kenapa?
Dengarkanlah keluhan teman-temanku di bawah ini..
“Uh! Susah  banget sih nyari buku di sini!”
“Iya, dari tadi keyword yang aku masukin ga ada datanya!”
“Walaupun ada juga bukunya udah lama semua, ga relevan buat tugasnya.”
“Heran, buku di sini apa ga pernah nambah ya?”
Begitulah ceritanya teman, yang ga ketemu cuma bisa mengurut dada.
Sama halnya denganku, aku tidak begitu tertarik untuk pergi ke sana apalagi berlama-lama berada di dalamnya. Pertama kali aku masuk ke sana atas paksaan teman sekelompokku, ya mau ga mau kupaksain aja, toh ini juga untuk keberhasilan makalah kami. Dengan setengah hati kuseret kakiku, kulihat berderet-deret buku, lalu kuambil beberapa buku yang cocok untuk dijadikan referensi makalah kami.  Aku pun mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Aha, ketemu!
Tebak apa yang terjadi?
Baru beberapa menit duduk sambil membolak-balik halaman aku mengantuk dan jatuh tertidur. Hehe..
***
Demikianlah pengalaman pertamaku beberapa bulan lalu di musium itu, saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Well, seingatku cuma tiga kali selama satu semester aku masuk ke situ.
Namun beda lagi dengan sekarang. Ah.. betapa mudahnya perasaan manusia berubah..

Penasaran dengan kelanjutannya? Well, ikuti saja cerita selanjutnya di "Perpustakaan atau Musium??? (part 2)".

Senin, 18 April 2011

What a Gloomy Day

Ada sedih, haru, kesal, iri, kecewa, sesal dan tidak rela berkecamuk dalam dada ketika melihat temanku datang dengan sebuah buku bertorehkan tanda tangannya, terlebih saat melihat foto mereka. Semua rasa menjelma jadi bulir-bulir air mata yang jatuh berderai, tak terbendung. Begini kah rasanya sakit ketika kita tak bisa bertemu dengan orang yang kita suka?

***

Dia hanya seorang penulis yang karyanya sangat kusukai dan perjalanan hidupnya tlah menginspirasi. Ya, namanya adalah A.Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Kemaren dia datang ke Gramedia Kompas, Surabaya, tapi aku kurang tau dalam rangka apa.
Salah satu temanku dan juga seniorku pergi ke sana, tentu saja dengan pasangan mereka, lalu aku? Kenapa tidak pergi juga? Alasannya klise, tak ada teman yang bersedia menemani, sedangkan aku tidak tahu lokasi.
Sesampainya temanku di asrama, aku langsung menghambur ke arahnya, memintanya menceritakan apa saja yang dilakukannya di sana, diapun dengan senang hati mengabulkannya. Katanya, “di sana kami ngobrol dengannya, bertanya dan minta tanda tangannya, hingga menjawab pertanyaan, dan tak lupa berfoto bersama”.
“Mana fotonya? Aku mau lihat”, pintaku.
“Nih..” diberikannya handphonenya kepadaku. dan pada saat itu lah, dadaku sesak, sesak dengan berbagai macam perasaan, ada sesuatu yang ingin keluar dan tak kuasa kutahan. Aku menangis dan berlari ke kamarku sendiri.
Batinku mencaci, “Mengapa tadi kau tidak nekat saja pergi sendiri?! Kan bisa naik taksi?! Bodoh!!”
Memang, aku terlalu ragu untuk mengambil tindakan.. aku kesal dengan diriku sendiri, aku iri dengan keberuntungan temanku, dan aku sedih karena tlah kehilangan kesempatan bertemu dengannya. Bahkan hingga tadi pagi ketika pulang kuliah, air mataku lagi-lagi jatuh ketika mereka sengaja mengungkitnya kembali.
Heran, padahal aku bukan tipe orang yang gampang mengeluarkan air mata, seringkali aku merasa sedih, terharu, tapi tangisan tak kunjung ada. Tapi sekarang, karena dia mengapa begitu mudahnya? Seingatku ini airmata terbanyak yang pernah kukeluarkan semenjak dewasa..

Jumat, 15 April 2011

Kind of Annoyance on Friday

Kalian tahu apa nama perasaan -atau mungkin masalah kejiwaan, ketika sering kali kita terganggu dengan perilaku orang di sekeliling yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan? Perasaan terganggu itu kemudian menjelma menjadi kesal yang tidak mengenakkan dan tak ada kata yang bisa kutemukan untuk melukiskan..

***

Pagi ini sebagaimana aturan di asrama, ada kerja bakti membersihkan asrama. Dan Jumat ini yang mendapat giliran adalah anak-anak atas (lantai dua). Sistem kerjanya memang  disetting bergilir, minggu depan  baru anak-anak lantai satu.
Setelah kuselesaikan pekerjaanku, yaitu nyapu plus ngepel lantai satu bersama seorang teman, aku langsung masuk kamar, dan aku sudah punya firasat hari ini bakalan ada gangguan lagi seperti dua minggu lalu. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiran itu, kuputuskan untuk online dulu sambil menikamati lagu. Mungkin agak paranoid, tapi ternyata...
Belum lama aku berada di kamar dengan pintu tertutup rapat-rapat sebagai antisipatif, terdengar suara "assalamu'alaikum.." dari luar, lalu sebelum sempat kujawab diapun sudah nyelonong masuk. Ekspresiku langsung  berubah defensif. Entah dia menyadarinya atau tidak… (maaf! ini lbh pda tindakan refleks). Sering kali aku bertanya-tanya, apa mereka memang tidak tahu yang namanya privasi, ada saat-saat dimana oeang lebih suka sendiri?
Well, itu memang permasalahan lain yang sering kuhadapi, tapi persoalan pagi ini bukan itu. Aku sangat sensitif dengan kebersihan. Aku bersusah payah mengeringkan kaki dulu sebelum ke tempat tidur, sedangkan dia dengan gampangnya langsung duduk di tempat tidur dengan kaki yang masih basah pula. “Emang tempat tidurku keset apa?!” erangku dalam hati. Mana dia habis bersihin dapur yang kotornya minta ampun, terus airnya bau. Uh! Lengkap lah kekesalanku. Alhasil aku ga terlalu menanggapi omongannya, pura-pura saja aku sibuk dengan laptopku.
Beda lagi dengan dua minggu lalu, di situasi yang sama, habis kerja bakti juga, berhubung aku belum selesai, ada yang minta izin numpang ngenet di kamar aku. Dan satu hal yang paling sulit kulakukan adalah berkata TIDAK! Ketika aku masuk kamar, apakah kalian bisa menebak teman apa yang kulihat?
Ternyata yang ada di sana gak ga cuman SATU! Dan dengan santainya mereka mengacak-ngacak tempat tidurku. O shiiit!! Dan yang lebih parah ada yang gunain selimut aku buat ngeringin tangan, kaki atau mungkin bajunya yang basah, padahal dia baru bersihin bagian depan kamar mandi! olala…
Seandainya kalian jadi aku, apa yang akan kalian rasakan?? Kesal, marah, benci, geli, atau jijik? Semuanya kurasakan, nyampur jadi satu. Tapi aku hanya bisa tersenyum kelu. Ya, hal lain yang juga paling sulit kulakukan, mengekspresikan kemarahan! Hari-hariku penuh dengan kepalsuan.
Bersyukur aku orang yang gampang teralihkan, jadi kekesalan yang kerap sekali datang bisa secepatnya kulupakan, hanya dengan membaca novel atau menuliskannya seperti ini, perasaanku akan kembali tenang J

Kamis, 14 April 2011

Blog yang Malang, Tak Punya Postingan




Sudah sejak lama kau diciptakan
namun tak kunjung tertoreh tulisan
terabaikan...
Blog yang malang
terlahir hanya untuk pajangan
sekedar memuaskan ego penulis bayangan
yang dirinya terlalu pesimis untuk mewujudkan
hanya terperangkap dalam angan...
Tapi sekarang, dia bertekad untuk menyihirmu menjadi cemerlang
walau hanya dengan coretan iseng
eksistensimu dan dirinya akan bisa dipandang
tak peduli banyak atau hanya segelintir orang...

***

Salam dunia...
Apakah harimu juga ceria? Menatap dunia dengan senyum menghiasi muka? Penuh semangat seperti saya?? Ya, semoga saja :)
Hari ini merupakan hari pertama aku menulis di sini. senang rasanya karena akhirnya aku bisa mengalahkan ketakutanku sendiri. ketakutan untuk menulis, kekhawatiran tak bisa menghasilkan apa-apa (picik sekali!).

Hari ini aku bangun dengan semangat menggebu memenuhi hati. Tapi sayang kelas intensif bahasa Inggris jam 6 pagi ini free. Tapi tak apalah.. untuk menggantinya aku bisa mengerjakan hal lain. 
Awalnya aku terpikir untuk mengerjakan tugas Hukum Peradilan Islam yang akan diserahkan jam setengah 3 siang nanti, tapi lagi-lagi godaan untuk online mengalahkanku. Akhirnya langsung saja kunyalakan laptop sehabis sholat dan mengaji subuh tadi.

Soal libur, ceritanya dosen yang ngajar, yang kebetulan juga dekat denganku dan biasa kupanggil "abang" (kecuali di kelas) sedang di Malang, ada rapat katanya. Padahal aku juga lagi bersemangat belajar bahasa Inggris lho, buktinya aku belum pernah absen, beda dengan semester 1 kemaren, aku sering sekali ga masuk kelas beliau. Hehe.. Peace my old bro..^^v

Ingin tahukah kalian mengapa aku begitu bersemangat?
Ok.. akan kuberi tahu, alasannya karena di penghujung semester 2 nanti akan ada tes ToEFL. Nah, kuanggap itu sebagai tantangan baru, yang ternyatan mampu melejitkan semangat belajarku, aku begitu berhasrat untuk meraih score tertinggi, yang barangkali bisa membantuku untuk mewujudkan mimpi bersekolah di Luar Negeri (it's one of my dreams :)

Well, cukup ini dulu postingan pertamaku, karena tugas utama sudah lama menunggu ;)
FIGHTING!!!