Sabtu, 30 April 2011

Ikrarku atas Hidupku

"Apa kau mengharapkanku? Jika iya, aku akan melamarmu."
Pertanyaan yg mengejutkan, membuatku terpana tak percaya, entah apa yg kurasa, yg jelas ekspresi itulah yg pertama muncul ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari orang yang tak terduga.
Lalu, aku harus menjawab apa?
Ok, biar kuselidiki dulu isi hati ini, mengingat-ngingat dan berusaha memunculkan kembali memori atas kenangan yg tlah usang. 

Dan ternyata…

Biasa-biasa saja perasaanku dan tak ada yang istimewa.

Sekarang, ketika cinta itu datang dan berpihak padaku, aku harus bagaimana? Entahlah, aku belum tahu, dan semoga saja di akhir tulisan ini aku akan mendapatkan jawabannya.

Aku sadar prinsipku, aku selalu ingin bebas dan menyukai kebebasan. Karena itulah aku tak suka terikat dengan hubungan semu yang tak jelas kemana arahnya, terlebih saat aku sedang bersamangat menjalani kuliahku dan fokus pada tujuan hidup yang kurancang sedemikian rupa.
Aku tak ingin menyakiti lagi yang menyebabkan akan adanya hati lain yang terluka kali ini. Aku juga tak ingin jatuh di lubang yang sama, dan jelas terlalu tolol untuk mengulanginya, sebab aku sudah tahu betul bagaimana perasaan tertekan dan merasa bersalahnya.
Terakhir, melihat status kami semua, siapa dia, siapa temanku, dan siapa aku..  sepertinya dia memang tak pantas untukku. Aku pasti takkan sanggup menghadapi tatapan menilai dan protes orang-orang yang tertuju padaku.

Ah.. ya, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan sekarang, aku akan lari darinya sebelum segalanya terlampau dekat. Dan aku berjanji akan melakukannya pada semua orang, hingga masanya berakhir nanti. Masa ketika tlah berhasil kuwujudkan mimpi-mimpiku serta tlah mampu kubahagiakan orang tuaku, maka aku juga berjanji akan membuka hati dan diri lagi.
Jadi sudahlah, kumohon jangan mengaharapkanku,  karena aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa tanpa menyakiti hati yang lain, yang aku yakin hal itu takkan bisa kulakukan.


***

Duhai cinta… lepaskan aku dari rengkuhanmu..

Aku ingin bebas, terbang tinggi meraih mimpi, hingga suatu saat nanti mungkin kita kan bersua kembali.. dalam ikatan yang suci..

Atau tidak sama sekali..

Sudahlah, tak mengapa. Karena aku sudah memiliki cinta sejati yang lebih tinggi.

Hingga tiada lagi hari untuk meratapi cinta semu ini..

Wahai rindu… lepaskan aku dr jeratmu.. Karena kerinduanku sebelum ini tak layak dipuji.

Dan sekarang, telah kusadari ada kerinduan baru yang merasuk ke dalam sanubari, rindu yang kuyakini lebih murni, rindu yang tanpa sengaja mampu membuatku menjatuhkan air mata ini, namun itu senantiasa kurasakan dengan senang hati.

Sang Penguasa hati, langit, dan bumi, izinkan aku melihat-Mu di akhirat nanti. Sungguh kuingin sekali menatap keagungan wajah-Mu Ilahi.. Agar kutak perlu merasakan cemburu yang membakar dada lagi ketika semua orang bisa bertemu dengan-Mu sedangkan tidak denganku…

Engkau Nabi, yang mempunyai kelembutan hati, izinkan aku berada di antara orang-orang yang kaukasihi, hingga selaksa rinduku bisa tersampaikan di mahsyar nanti…

Selasa, 26 April 2011

Nyanyian Manusia

"Kamu semula mati, dan Dia menghidupkan 
kamu kembali, kemudian
Dia akan menyebabkanmu mati,
dan Dia akan membangkitkan kamu;
kemudian kepada-Nya-lah kamu akan kembali."
-Alquran 2:28-


Aku hadir dari kebakaan dan kini aku di sini, kehadiranku tiada akan selesai, aku akan menjadi saksi hingga zaman usai.
Aku melayang ke ruang tak terbatas dan mengambil sayap di dunia maya, menyongsong lingkar cahaya kemuliaan; dan sekarang inilah aku, luluh dalam waktu.
Aku mendengarkan ajaran konfusius, memetik kebijakan Brahma dan duduk di samping Budha di bawah pohon kearifan. Dan sekarang aku di sini, meregang ketidaktahuan dan kesanksian. Aku berada di Sinai ketika Tuhan mencurahkan cahayanya atas Musa; di Sungai Yordan aku menjadi saksi kemukjizatan atas Isa; dan di Madinah aku mendengarkan sabda Muhammad kepada orang-orang Arab.
Dan sekarang aku di sini menjadi tawanan kegalauan.Aku menyaksikan keperkasaan Babylon, kejayaan bangsa Mesir dan kemegahan bangsa Yunani; dan aku masih melihat kelemahan, kemerosotan atau perendahan derajat dan penindasan dalam semua karya mereka.
Aku duduk bersama penyihir dari Endor, peramal dari Assyiria, para nabi dari Palestina.
Dan aku masih mesti bersiteguh menyusuri kebenaran. Aku menimba kebijaksanaan yang diwahyukan di India, mendengar kasidah kalbu yang didengarkan penduduk di semenanjung Arabia, dan orkestra yangdihayati sepenuh jiwa di Barat; sebelum aku buta dan tidak dapat melihat, pekak dan tidak dapat mendengar.
Aku bersabar terhadap penindasan para penakluk, menanggung derita di tangan para tiran, dan diperbudak para despot -selagi tenagaku lunglai, aku berjuangdari hari ke hari.
Aku melihat dan mendengar semuanya selagi kecil, mendengar dan menyaksikan semuanya selagi muda dengan kepedihannya kemudian; dan lalu aku tumbuh menjadi tua, menggapai-gapai kesempurnaan, hingga kembali kepada Tuhan.
Aku hadir dari kebakaan dan kini aku di sini, kehadiranku tiada akan selesai, aku akan menjadi saksi sampai zaman usai.
 ***
 
Indah bukan? Itulah syair di lembar pertama buku Kahlil Gibran, Raja yang Terpenjara, yang kudapatkan dari salah satu sudut perspustakaan tua, musium, atau apalah namanya sudah tak lagi kuindahkan, yang kutahu aku sudah menemukan mutiara yang tersimpan di dalamnya.
Dan bagaimana bisa aku tidak terpukau dengan kemilau kata-katanya?
Namun satu yang aku herankan, kenapa pada awal-awal buku itu terselip satu ayat Alquran. Seakan syair tersebut hanyalah merupakan saduran, atau malah sebaliknya. Entahlah..
Tahukah engkau alasannya teman? Jika berkenan tolong berikan tanggapan, dan jangan biarkan aku terjebak dalam kebingungan. :)

Senin, 25 April 2011

Perpustakaan atau Musium??? (part 2)

Namun beda lagi dengan sekarang. Ah.. betapa mudahnya perasaan manusia berubah.
Sekarang aku bisa menemukan sisi lain dari perpus itu, sisi yang setidaknya membuat kakiku enggan untuk beranjak dari tempat itu. Sisi itu adalah rak paling belakang, rak yang memuat buku-buku sastra lama! Entah kenapa aku sedang tertarik untuk menyelami karya sastrawan Indonesia. Di sana ada buku-buku Pramudya Ananta Toer, bapak H.B. Jassin, Kuntowijoyo, dan lain-lain. Belum lagi yang dari luar, ada mahakaryanya Rabindranath Tagore, magnum opusnya Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, dll. Oh dear… aku tecekat karena terpana, dan bahagia saat pertama kali melihatnya, bagaimana tidak jika itu semua merupakan hal berarti yang selama ini selalu kucari-cari?!!
Beberapa dari karya mereka memmang kumiliki, terlebih Kahlil Gibran, tapi entah kenapa terjemahannya menurutku kurang bagus. Ya,  aku sama sekali tidak puas.
Hari itu, setelah lumayan puas melihat-lihat dan sudah memutuskan buku apa saja yang akan kupinjam aku memutuskan untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 12.00, itu berarti sudah kurang lebih 4 jam aku berada di sana (dikurangi waktu ketiduran sebentar, haha..) dan aku baru menyadari kalau badanku terasa lemas karena lapar, sebab dari pagi memang belum makan.
Dengan buru-buru aku turun ke bawah, menyerahkan buku yang mau kupinjam serta kartu perpus kepada petugas. Sambil menunggu proses pencatatan, aku melewati mesin pendeteksi untuk keluar dari bagian dalam perpustakaan, dan tiba-tiba...
Tit, tit, tit, tit, tit, tit…
Semua mata memperhatikanku. Aku gelagapan, sempat termenung karena bingung sebentar lalu cepat-cepat menjauh dari mesin itu. Oh dear… ternyata di tangan aku ada buku perpus yang kupinjam kemaren. Ibu penjaga itupun mengambilnya dengan tatapan sinis, apakah tampangku terlihat seperti tampang seorang pencuri? Mungkin lebih tepatnya tampang orang bodoh. Haha.. jujur, aku tidak tahu kalau buku yang sudah dipinjam pun tidak boleh dibawa masuk ke dalam perpustakaan.
Dalam beberapa saat termenung itu, dengan mata heran orang-orang tertuju padaku, bukannya malu aku malah bersyukur. Di benakku terlintas kelicikan yang kurencanakan dengan temanku kemaren.
Ceritanya begini, kami putus asa pada kenyataan yang memperlihatkan kalau buku yang kami inginkan berstempel kalimat “tidak dipinjamkan”, lalu, langsung saja otak kami yang memang jahat ini merumuskan rencana bejat. Hehe.. kami berniat membawanya kabur. Tindakan yang pernah dilakukan Khairil Anwar pun jadi pembenar untuk meyakinkan rencana kami ini. Kalian tahu teman kalau Khairil Anwar, salah satu sastrawan terkemuka negeri kita pernah mencuri buku di sebuah toko buku? Hebat bukan?! Rencana kami jadi terdengar sangat membanggakan. Haha.. ditambah desas-desus yang beredar mengatakan kalau mesin itu tidak berfungsi.
Ah, tapi lihatlah sekarang, rumor itu ternyata salah besar. Aku bersyukur karena mengetahui kebenaran dan bersyukur bahwa taktik itu batal kami operasikan. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau 2 orang mahasiswa PBSB ketahuan saat berusaha membawa kabur buku perpustakaan?? Olala..
Semua kejadian itu kuceritakan kepada temanku, awalnya wajahnya mengernyit, mungkin karena prihatin, lalu kemudian tawanya meledak, terbahak-bahak menertawakan ketololanku.
Biarlah, aku tak peduli. Yang kurasakan hanya kesenangan karena mendapat pengalaman yang mengasyikkan. Dan satu lagi, aku sudah tidak sabar ingin mengunjungi perpustakaan tua itu lagi :D

Minggu, 24 April 2011

Perpustakaan atau Musium??? (part 1)

‘Mau kemana?”
“Musium dulu”, jawab temanku sembari nyegir.
Itulah julukan untuk perpustakaan kampus kami di kalangan mahasiswa, Musium. hehe..
Kamu ingin tahu kenapa?
Dengarkanlah keluhan teman-temanku di bawah ini..
“Uh! Susah  banget sih nyari buku di sini!”
“Iya, dari tadi keyword yang aku masukin ga ada datanya!”
“Walaupun ada juga bukunya udah lama semua, ga relevan buat tugasnya.”
“Heran, buku di sini apa ga pernah nambah ya?”
Begitulah ceritanya teman, yang ga ketemu cuma bisa mengurut dada.
Sama halnya denganku, aku tidak begitu tertarik untuk pergi ke sana apalagi berlama-lama berada di dalamnya. Pertama kali aku masuk ke sana atas paksaan teman sekelompokku, ya mau ga mau kupaksain aja, toh ini juga untuk keberhasilan makalah kami. Dengan setengah hati kuseret kakiku, kulihat berderet-deret buku, lalu kuambil beberapa buku yang cocok untuk dijadikan referensi makalah kami.  Aku pun mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Aha, ketemu!
Tebak apa yang terjadi?
Baru beberapa menit duduk sambil membolak-balik halaman aku mengantuk dan jatuh tertidur. Hehe..
***
Demikianlah pengalaman pertamaku beberapa bulan lalu di musium itu, saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Well, seingatku cuma tiga kali selama satu semester aku masuk ke situ.
Namun beda lagi dengan sekarang. Ah.. betapa mudahnya perasaan manusia berubah..

Penasaran dengan kelanjutannya? Well, ikuti saja cerita selanjutnya di "Perpustakaan atau Musium??? (part 2)".

Senin, 18 April 2011

What a Gloomy Day

Ada sedih, haru, kesal, iri, kecewa, sesal dan tidak rela berkecamuk dalam dada ketika melihat temanku datang dengan sebuah buku bertorehkan tanda tangannya, terlebih saat melihat foto mereka. Semua rasa menjelma jadi bulir-bulir air mata yang jatuh berderai, tak terbendung. Begini kah rasanya sakit ketika kita tak bisa bertemu dengan orang yang kita suka?

***

Dia hanya seorang penulis yang karyanya sangat kusukai dan perjalanan hidupnya tlah menginspirasi. Ya, namanya adalah A.Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Kemaren dia datang ke Gramedia Kompas, Surabaya, tapi aku kurang tau dalam rangka apa.
Salah satu temanku dan juga seniorku pergi ke sana, tentu saja dengan pasangan mereka, lalu aku? Kenapa tidak pergi juga? Alasannya klise, tak ada teman yang bersedia menemani, sedangkan aku tidak tahu lokasi.
Sesampainya temanku di asrama, aku langsung menghambur ke arahnya, memintanya menceritakan apa saja yang dilakukannya di sana, diapun dengan senang hati mengabulkannya. Katanya, “di sana kami ngobrol dengannya, bertanya dan minta tanda tangannya, hingga menjawab pertanyaan, dan tak lupa berfoto bersama”.
“Mana fotonya? Aku mau lihat”, pintaku.
“Nih..” diberikannya handphonenya kepadaku. dan pada saat itu lah, dadaku sesak, sesak dengan berbagai macam perasaan, ada sesuatu yang ingin keluar dan tak kuasa kutahan. Aku menangis dan berlari ke kamarku sendiri.
Batinku mencaci, “Mengapa tadi kau tidak nekat saja pergi sendiri?! Kan bisa naik taksi?! Bodoh!!”
Memang, aku terlalu ragu untuk mengambil tindakan.. aku kesal dengan diriku sendiri, aku iri dengan keberuntungan temanku, dan aku sedih karena tlah kehilangan kesempatan bertemu dengannya. Bahkan hingga tadi pagi ketika pulang kuliah, air mataku lagi-lagi jatuh ketika mereka sengaja mengungkitnya kembali.
Heran, padahal aku bukan tipe orang yang gampang mengeluarkan air mata, seringkali aku merasa sedih, terharu, tapi tangisan tak kunjung ada. Tapi sekarang, karena dia mengapa begitu mudahnya? Seingatku ini airmata terbanyak yang pernah kukeluarkan semenjak dewasa..

Jumat, 15 April 2011

Kind of Annoyance on Friday

Kalian tahu apa nama perasaan -atau mungkin masalah kejiwaan, ketika sering kali kita terganggu dengan perilaku orang di sekeliling yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan? Perasaan terganggu itu kemudian menjelma menjadi kesal yang tidak mengenakkan dan tak ada kata yang bisa kutemukan untuk melukiskan..

***

Pagi ini sebagaimana aturan di asrama, ada kerja bakti membersihkan asrama. Dan Jumat ini yang mendapat giliran adalah anak-anak atas (lantai dua). Sistem kerjanya memang  disetting bergilir, minggu depan  baru anak-anak lantai satu.
Setelah kuselesaikan pekerjaanku, yaitu nyapu plus ngepel lantai satu bersama seorang teman, aku langsung masuk kamar, dan aku sudah punya firasat hari ini bakalan ada gangguan lagi seperti dua minggu lalu. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiran itu, kuputuskan untuk online dulu sambil menikamati lagu. Mungkin agak paranoid, tapi ternyata...
Belum lama aku berada di kamar dengan pintu tertutup rapat-rapat sebagai antisipatif, terdengar suara "assalamu'alaikum.." dari luar, lalu sebelum sempat kujawab diapun sudah nyelonong masuk. Ekspresiku langsung  berubah defensif. Entah dia menyadarinya atau tidak… (maaf! ini lbh pda tindakan refleks). Sering kali aku bertanya-tanya, apa mereka memang tidak tahu yang namanya privasi, ada saat-saat dimana oeang lebih suka sendiri?
Well, itu memang permasalahan lain yang sering kuhadapi, tapi persoalan pagi ini bukan itu. Aku sangat sensitif dengan kebersihan. Aku bersusah payah mengeringkan kaki dulu sebelum ke tempat tidur, sedangkan dia dengan gampangnya langsung duduk di tempat tidur dengan kaki yang masih basah pula. “Emang tempat tidurku keset apa?!” erangku dalam hati. Mana dia habis bersihin dapur yang kotornya minta ampun, terus airnya bau. Uh! Lengkap lah kekesalanku. Alhasil aku ga terlalu menanggapi omongannya, pura-pura saja aku sibuk dengan laptopku.
Beda lagi dengan dua minggu lalu, di situasi yang sama, habis kerja bakti juga, berhubung aku belum selesai, ada yang minta izin numpang ngenet di kamar aku. Dan satu hal yang paling sulit kulakukan adalah berkata TIDAK! Ketika aku masuk kamar, apakah kalian bisa menebak teman apa yang kulihat?
Ternyata yang ada di sana gak ga cuman SATU! Dan dengan santainya mereka mengacak-ngacak tempat tidurku. O shiiit!! Dan yang lebih parah ada yang gunain selimut aku buat ngeringin tangan, kaki atau mungkin bajunya yang basah, padahal dia baru bersihin bagian depan kamar mandi! olala…
Seandainya kalian jadi aku, apa yang akan kalian rasakan?? Kesal, marah, benci, geli, atau jijik? Semuanya kurasakan, nyampur jadi satu. Tapi aku hanya bisa tersenyum kelu. Ya, hal lain yang juga paling sulit kulakukan, mengekspresikan kemarahan! Hari-hariku penuh dengan kepalsuan.
Bersyukur aku orang yang gampang teralihkan, jadi kekesalan yang kerap sekali datang bisa secepatnya kulupakan, hanya dengan membaca novel atau menuliskannya seperti ini, perasaanku akan kembali tenang J

Kamis, 14 April 2011

Blog yang Malang, Tak Punya Postingan




Sudah sejak lama kau diciptakan
namun tak kunjung tertoreh tulisan
terabaikan...
Blog yang malang
terlahir hanya untuk pajangan
sekedar memuaskan ego penulis bayangan
yang dirinya terlalu pesimis untuk mewujudkan
hanya terperangkap dalam angan...
Tapi sekarang, dia bertekad untuk menyihirmu menjadi cemerlang
walau hanya dengan coretan iseng
eksistensimu dan dirinya akan bisa dipandang
tak peduli banyak atau hanya segelintir orang...

***

Salam dunia...
Apakah harimu juga ceria? Menatap dunia dengan senyum menghiasi muka? Penuh semangat seperti saya?? Ya, semoga saja :)
Hari ini merupakan hari pertama aku menulis di sini. senang rasanya karena akhirnya aku bisa mengalahkan ketakutanku sendiri. ketakutan untuk menulis, kekhawatiran tak bisa menghasilkan apa-apa (picik sekali!).

Hari ini aku bangun dengan semangat menggebu memenuhi hati. Tapi sayang kelas intensif bahasa Inggris jam 6 pagi ini free. Tapi tak apalah.. untuk menggantinya aku bisa mengerjakan hal lain. 
Awalnya aku terpikir untuk mengerjakan tugas Hukum Peradilan Islam yang akan diserahkan jam setengah 3 siang nanti, tapi lagi-lagi godaan untuk online mengalahkanku. Akhirnya langsung saja kunyalakan laptop sehabis sholat dan mengaji subuh tadi.

Soal libur, ceritanya dosen yang ngajar, yang kebetulan juga dekat denganku dan biasa kupanggil "abang" (kecuali di kelas) sedang di Malang, ada rapat katanya. Padahal aku juga lagi bersemangat belajar bahasa Inggris lho, buktinya aku belum pernah absen, beda dengan semester 1 kemaren, aku sering sekali ga masuk kelas beliau. Hehe.. Peace my old bro..^^v

Ingin tahukah kalian mengapa aku begitu bersemangat?
Ok.. akan kuberi tahu, alasannya karena di penghujung semester 2 nanti akan ada tes ToEFL. Nah, kuanggap itu sebagai tantangan baru, yang ternyatan mampu melejitkan semangat belajarku, aku begitu berhasrat untuk meraih score tertinggi, yang barangkali bisa membantuku untuk mewujudkan mimpi bersekolah di Luar Negeri (it's one of my dreams :)

Well, cukup ini dulu postingan pertamaku, karena tugas utama sudah lama menunggu ;)
FIGHTING!!!

Rabu, 13 April 2011

Sebuah Sisi Kelam dalam Terang


Sebuah dialog dengan orang tuaku setahun silam tiba-tiba mengambang, muncul ke permukaan, entah bantahanku itu benar atau salah..
Mama: “Nanti kuliahnya ga usah jauh-jauh!”
Aku: ga mau Ma, masa aku harus terkungkung di sini terus-menerus?!! Aku juga ingin melihat dunia luar, pokoknya aku mau kuliah minimal di Jawa, bagaimanapun caranya, bantahku.


*** 
Dan lihatlah aku sekarang, terdampar di sini, di Pulau Jawa bagian Timur, di sebuah kota bernama Surabaya, di kampus sederhana IAIN Sunan Ampel.
Lewat jalur PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Depag aku berhasil lulus seleksi, mau tak mau orang tuaku mengizinkan aku pergi, walaupun kukira tetap dengan berat hati.
Namun apa, semakin lama kujalani hari-hari di sini, semuanya tak seperti yang diharapkan, banyak penyesalan muncul belakangan. Apa ini merupakan balasan atas sikap berontakku terhadap orang tua?? Ah, mungkin saja..
Kemanapun aku memandang, semuanya tak ada yang menyenangkan. Aku kesulitan beradaptasi. Aku asing dengan semua ini, aku terkaget-kaget dengan kondisi seperti ini (maklum lah.. sebelumnya aku tidak pernah kemana-mana, hehe..)
***
Bagaimana mau berlari mengejar ketinggalan teman-teman yang di depan, untuk berjalan pun aku ngos-ngosan. Di satu sisi aku iri sekaligus minder dengan teman-temanku, mereka begitu pandai dan lihai. Bukannya termotivasi aku malah semakin down, aku menyadari kalau di sini bukanlah tempat yang cocok untukku. Lantas, bagaimana bisa aku melanjutkan pendidikan tanpa penggerak yang bernama semangat?! Absurd.
Di sisi lain, aku tidak mau menjadi orang marginal dengan kehidupan yang kelewat biasa-biasa saja. Aku kebingungan, mencoba mencari motivasi kemana-mana, namun hasilnya nihil. Hatiku berontak, namun tubuhku tetap diam tak bergerak.
Setiap saat hanya novel yang menemaniku, ia menjadi pelarian ampuh dan pengobat jenuh. Hingga suatu hari aku tertarik untuk membaca Negeri 5 Menara. Amazing! Novel ini telah menyihirku, menerbangkan ingatanku ke masa-masa silam saat menjalani pendidikan di pesantren. Kembali ke masa-masa dimana semangat itu menggelora, inginkan ilmu mengangkasa, dan cita-cita yang mendunia.
Aku rindu nuansa itu, pondokku yang mengilhami, teman serta persahabatan kami, serta guru-guru yang menginspirasi. Aku ingin membangun kembali hidupku, memungut satu-persatu mimpiku yang sempat terserak melintasi waktu. Mereguk nikmatnya anggur bernama pengetahuan. Mengecap hangatnya sajian ilmu keagamaan.
Sekarang, dalam kehidupan yang baru aku bertekad merajut kembali mimpiku dulu, walaupun dalam hati betapa malu aku pada-Nya. Terlalu banyak keluh kesah yang keluar dari sudut bibirku, sibuk meratapi nasib yang tidak menyenangkan (menurut penilaian dangkalku). Sungguh bodoh! Kekufuran telah membutakanku, hingga mendustakan nikmat yang diberikan-Nya padaku. Astaghfirullah…
Walaupun tidak bisa kutemukan nuansa pesantrenku dulu di sini, namun akan kubuat semangatnya terus menyala dalam hatiku, menyinari jalanku. Telah kupancangkan niat dan kubulatkan tekad, tak ada lagi malas-malasan, yang ada hanya perjuangan. Hidup sekali beri yang berarti, orang tua menanti, mengharapkan kesuksesanku, tak akan kukhianati kepercayaan mereka, janjiku selalu tuk membuat mereka bahagia.
Tulisan ini bukan kubuat untuk mengeluh lagi, aku hanya ingin membuang semua pikiran jelekku, membersihkan hatiku. Berharap inilah yang terakhir kali dan menandai kehidupan baru dengan semangat lama yang menggebu. Bismillah…
Jika mereka tak bisa melihat keberadaanku, maka akulah yang harus membuat mereka memandangku..

Jika mereka tak dapat mendengarku, maka akulah yang akan memaksa mereka membuka telinga..

Jika mereka tak mampu membaca apa yang ada dalam benakku, maka akulah yang akan membeberkan isi kepalaku..

Hingga mereka mengetahui..

Hingga mereka memahami..

Sebab eksistensi manusia diterima karena pikirannya..

***

Teman, jika kalian bertanya mengapa aku menulis, mengapa aku ingin sekali menjadi penulis maka beginilah alasannya..
Karena aku bukan orang yang lihai berkata-kata, pandai mendebat, maupun cerdas dalam berargumen, sedangkan isi kepalaku butuh wadah untuk disalurkan, maka dari itu menulislah yang menjadi pilihan. Berusaha bagaimana agar pikiranku tidak hanya mengendap di sana, tapi juga tercipta dalam benda, sehingga bisa dibaca siapa saja.
Sebenarnya aku juga sudah lama tertarik dengan dunia ini, lihatlah banyak sekali orang hebat telahir dari karya tulisnya, dan hal itu berupa-rupa mengilhamiku. Namun entah kenapa, aku selalu ragu untuk memulai, aku takut jika tak punya inspirasi, setiap ingin menulis jari-jariku seakan membeku, sulit  tuk digerakkan. Aku memang orang yang pesimis, dan ini merupakan kekurangan yang sangat kusadari dan seringkali tak mampu kuatasi.
Padahal tanpa dicoba, bagaimana mungkin mengetahui hasilnya?! Dan sekarang aku sedang berusaha melawan kebodohanku sendiri. Aku memaksakan diriku untuk menulis di blog usang yang sudah lama terbengkalai ini. Walaupun hanya tulisan sederhana yang bercerita isi hati, uneg-uneg, dll, aku percaya ini bisa menjadi latihan kecil untuk bisa menciptakan karya besar pada suatu hari nanti yang masih diselubungi misteri..