Sebuah dialog dengan orang tuaku setahun silam tiba-tiba mengambang, muncul ke permukaan, entah bantahanku itu benar atau salah..
Mama: “Nanti kuliahnya ga usah jauh-jauh!”
Aku: ga mau Ma, masa aku harus terkungkung di sini terus-menerus?!! Aku juga ingin melihat dunia luar, pokoknya aku mau kuliah minimal di Jawa, bagaimanapun caranya, bantahku.
***
Dan lihatlah aku sekarang, terdampar di sini, di Pulau Jawa bagian Timur, di sebuah kota bernama Surabaya, di kampus sederhana IAIN Sunan Ampel.
Lewat jalur PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Depag aku berhasil lulus seleksi, mau tak mau orang tuaku mengizinkan aku pergi, walaupun kukira tetap dengan berat hati.
Namun apa, semakin lama kujalani hari-hari di sini, semuanya tak seperti yang diharapkan, banyak penyesalan muncul belakangan. Apa ini merupakan balasan atas sikap berontakku terhadap orang tua?? Ah, mungkin saja..
Kemanapun aku memandang, semuanya tak ada yang menyenangkan. Aku kesulitan beradaptasi. Aku asing dengan semua ini, aku terkaget-kaget dengan kondisi seperti ini (maklum lah.. sebelumnya aku tidak pernah kemana-mana, hehe..)
***
Bagaimana mau berlari mengejar ketinggalan teman-teman yang di depan, untuk berjalan pun aku ngos-ngosan. Di satu sisi aku iri sekaligus minder dengan teman-temanku, mereka begitu pandai dan lihai. Bukannya termotivasi aku malah semakin down, aku menyadari kalau di sini bukanlah tempat yang cocok untukku. Lantas, bagaimana bisa aku melanjutkan pendidikan tanpa penggerak yang bernama semangat?! Absurd.
Di sisi lain, aku tidak mau menjadi orang marginal dengan kehidupan yang kelewat biasa-biasa saja. Aku kebingungan, mencoba mencari motivasi kemana-mana, namun hasilnya nihil. Hatiku berontak, namun tubuhku tetap diam tak bergerak.
Setiap saat hanya novel yang menemaniku, ia menjadi pelarian ampuh dan pengobat jenuh. Hingga suatu hari aku tertarik untuk membaca Negeri 5 Menara. Amazing! Novel ini telah menyihirku, menerbangkan ingatanku ke masa-masa silam saat menjalani pendidikan di pesantren. Kembali ke masa-masa dimana semangat itu menggelora, inginkan ilmu mengangkasa, dan cita-cita yang mendunia.
Aku rindu nuansa itu, pondokku yang mengilhami, teman serta persahabatan kami, serta guru-guru yang menginspirasi. Aku ingin membangun kembali hidupku, memungut satu-persatu mimpiku yang sempat terserak melintasi waktu. Mereguk nikmatnya anggur bernama pengetahuan. Mengecap hangatnya sajian ilmu keagamaan.
Sekarang, dalam kehidupan yang baru aku bertekad merajut kembali mimpiku dulu, walaupun dalam hati betapa malu aku pada-Nya. Terlalu banyak keluh kesah yang keluar dari sudut bibirku, sibuk meratapi nasib yang tidak menyenangkan (menurut penilaian dangkalku). Sungguh bodoh! Kekufuran telah membutakanku, hingga mendustakan nikmat yang diberikan-Nya padaku. Astaghfirullah…
Walaupun tidak bisa kutemukan nuansa pesantrenku dulu di sini, namun akan kubuat semangatnya terus menyala dalam hatiku, menyinari jalanku. Telah kupancangkan niat dan kubulatkan tekad, tak ada lagi malas-malasan, yang ada hanya perjuangan. Hidup sekali beri yang berarti, orang tua menanti, mengharapkan kesuksesanku, tak akan kukhianati kepercayaan mereka, janjiku selalu tuk membuat mereka bahagia.
Tulisan ini bukan kubuat untuk mengeluh lagi, aku hanya ingin membuang semua pikiran jelekku, membersihkan hatiku. Berharap inilah yang terakhir kali dan menandai kehidupan baru dengan semangat lama yang menggebu. Bismillah…

sukses yaa teman.
BalasHapustulisannya keren-keren.
terus perjuangankan cita-citamu.
tinggal beberapa lagi, semua isi blog kelar di baca.
berbakat km Dev jadi penulis.