Selasa, 30 Agustus 2011

Sepak Bola dan Patriotisme

Malam ini akhirnya gw menamatkan novel 11 Patriot karya Andrea Hirata dengan mengulangnya dari awal, setelah sebelumnya sempat membaca beberapa halaman, lalu kupinjamkan kepada teman, yah, gw pikir gapapa lah selagi gw masih punya novel lain yg bisa dibaca.

Dari dulu gw selalu berpikiran kalau sepak bola merupakan permainan yg membosankan, gw juga heran bagaimana seseorang bisa begitu tergila-gilanya pada sepak bola. Namun, setelah membaca buku ini pikiran gw itu langsung dijungkirbalikkan.

Kalian tau kalau ternyata dulu masyarakat pribumi juga melawan para penjajah melalui olahraga ini? Tak terbayang bagaimana sakitnya ketika hari ini bangsa kita memenangkan pertandingan, namun besoknya sudah harus merelakan nasib tak bisa bermain di lapangan karena dibuang ke pulau-pulau, disiksa di tangsi, dan yang lebih parah karena tempurung kaki yg hancur. Sampai di sini air mata gw merembes, tak bisa menahan tangis.
Sepak bola bukanlah sekedar 22 orang lelaki ganteng kurang kerjaan, berlari tunggang langgang, bertabrakan tak karuan, demi memperebutkan sebuah bola. 
Persis kalimat itulah yg ada di benak gw selama ini, dan tiba2 saja saat melihatnya tertulis di buku itu, kata2 tersebut otomatis terdengar sarkastik, menghantam gw telak, maka malam ini gw merasa jadi orang yg paling picik di dunia.

Ada banyak hal dalam sepak bola, jika di dunia ini ada hal menakjubkan lain selain cinta, maka itu adalah sepak bola.
Dan jika kau mencintai PSSI, maka 10% adalah mencintai sepak bola dan 90% nya mencintai Indonesia.
Jika sepak bola memang mempunyaii jiwa, maka tidak lain jiwa itu adalah patriotisme.

Begitu banyak kalimat Andrea yang menghinotis di buku ini, sehingga dengan mudah membius hati serta pikiran gw. Dari sekarang, gw berjanji tidak akan pernah merendahkan sepak bola lagi, terlebih PSSI, dan akan berusaha menyukainya dengan sepenuh hati.

Indonesia tanah airku, tumpah darahku, tawa serta tangisku, putih tulangku, merah darahku. Mari bersama kita sorakkan, “Indonesia aku datang, Indonesia kau menang!!”

Senin, 29 Agustus 2011

Manusia dan Narsisme


Seperti biasa yg semua orang lakuin, gw juga ngelakuin itu, knapa?? Karena gw normal, itu jelas.
"trs itu itu apa??!!"
Well.. yg gw maksud dgn itu adalah menyempatkan diri cuci mata d facebook di sela-sela ngeblog. Gw semakin yakin kalau fb itu punya daya tarik magis dan yg gw pertanya-tanyakan sekarang, "Si Mark itu gunain MANTRA apa!?!??!

Cukup bahas soal mantra!

Karena otak gw yg sebagiannya memang tlah diisi oleh Harry Potter, secara tidak sadar langsung berspekulasi dan menderet mantra2,
dari accio
expect patronum
lumos
prior incantatem
alohomora
wingardium leviosa
petrificus totalus
sampai avada kadavra…

Oh! Oh! Kesadaran menelisik gw seketika, jelas diantara semua itu ga ada yang mungkin, bahkan untuk sekedar dipertimbangkan.
Tu kan ngaco lagi, ehm, balik ke masalah fb. Tadi secara ga sengaja gw liat foto teman MTs gw, -yg ga tau apa itu MTs mohon diem aja, krena gw ga bakal ngasi tau kalau MTs itu salah satu jenjang pendidikan yg dalam bahasa gaulnya disebut junior high school.

“Lalu, ada apa dengan foto teman gw tadi??”

Begini, gw agak shock pas liat foto dia. Bukan.. tentu sja bukan karena gw iri karena dia kalah cantik, kekek. Melainkan karena ngeliat kenarsisannya.
Ya ya, ga usah diinterupsi!
Gw sadar betul kalau narsis juga merupakan hak setiap manusia, sebagaimana pendidikan, namun gw benar2 sangsi kalau narsis suatu saat nanti bakalan menjelma jadi salah satu pasal dlm UUD.

Jujur, dalam hati gw masih  menyimpan ketidakpercayaan, “bagaimana bisa si narsis ini juga menjangkiti teman2 gw yg dulunya polos, bahkan sangat polos!?

Ga pernah terbayang, bahkan dalam imajinasi terliar gw bahwa beberapa diantara mereka bakal melepas kerudung mereka dengan mudahnya. Mungkin ada yg berkomentar, “ah, biasa aja..”
Mungkin iya, bagi anak sekolahan biasa, tp bagi santri?! Sama sekali ga. Itu merupakan salah satu hal yg paling dikecam di pesantren. Kerudung diibaratkan simbol kehormatan wanita.

Gw bukan manusia hipokrit, gw akui gw juga punya sifat narsis, tp mgkn ga seekstrem itu. Ga percaya? Liat aja foto profil fb gw yg entah udh brp bulan ga ganti, kekek.
Trs, apa yg gw bisa lakuin buat temen2 gw ini? Ada beberapa opsi:
Menasehati? Takut dikatain sok alim.
Memarahi? Ini privasi yg ga berhak gw intervensi.
Emm, mungkin pada akhirnya, lagi2, cuma doa yg bisa gw berikan untuk mereka.

I'm back

Udah lama nih ga meregangkan otot dengan menulis, jari-jari gw pun rasanya kaku bergerak di atas keyboard.
Blog ini kasian banget deh, kalau diibaratkan rumah, mungkin sudah dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Eww.. ok, ok, gw tau, itu perumpamaan yang lumrah benget, well.. gw emang belum terpikirkan metafora baru yg pas. Emm, mungkin memang ga ada, atau… fantasi gw aja kali yg kelewat rendah. Uh! Hate to say it!!

Nah, back to main topic mengapa sekarang gw nulis, ehm, jd begini, sekarang gw punya komitmen baru tuk rajin ngisi ni blog, walaupun dengan tulisan ringan yg seringan-ringannya, ya minimal mengekspresikan perasaan. Emang melenceng sih dari niat awal, well, gw pikir daripada membuat menulis jadi kegiatan yg berat dan akhirnya malah ga jalan2, mending menuliskan apa yg ada di hati ataupun yg terlintas di pikiran, sesederhana apapun itu, karena pada akhirnya yg terpenting dari kegiatan ini kan adalah membuatnya agar terus berjalan. Bener ga!?! Gw tau gw bener, bahkan penulis2 hebat di dunia pun bakal mengamininya dgn takzim.
...
*terhenti
#bingung, “lalu sekarang gw nulis apa lagi!?!?!”