Namun beda lagi dengan sekarang. Ah.. betapa mudahnya perasaan manusia berubah.
Sekarang aku bisa menemukan sisi lain dari perpus itu, sisi yang setidaknya membuat kakiku enggan untuk beranjak dari tempat itu. Sisi itu adalah rak paling belakang, rak yang memuat buku-buku sastra lama! Entah kenapa aku sedang tertarik untuk menyelami karya sastrawan Indonesia. Di sana ada buku-buku Pramudya Ananta Toer, bapak H.B. Jassin, Kuntowijoyo, dan lain-lain. Belum lagi yang dari luar, ada mahakaryanya Rabindranath Tagore, magnum opusnya Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, dll. Oh dear… aku tecekat karena terpana, dan bahagia saat pertama kali melihatnya, bagaimana tidak jika itu semua merupakan hal berarti yang selama ini selalu kucari-cari?!!
Beberapa dari karya mereka memmang kumiliki, terlebih Kahlil Gibran, tapi entah kenapa terjemahannya menurutku kurang bagus. Ya, aku sama sekali tidak puas.
Hari itu, setelah lumayan puas melihat-lihat dan sudah memutuskan buku apa saja yang akan kupinjam aku memutuskan untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 12.00, itu berarti sudah kurang lebih 4 jam aku berada di sana (dikurangi waktu ketiduran sebentar, haha..) dan aku baru menyadari kalau badanku terasa lemas karena lapar, sebab dari pagi memang belum makan.
Dengan buru-buru aku turun ke bawah, menyerahkan buku yang mau kupinjam serta kartu perpus kepada petugas. Sambil menunggu proses pencatatan, aku melewati mesin pendeteksi untuk keluar dari bagian dalam perpustakaan, dan tiba-tiba...
Tit, tit, tit, tit, tit, tit…
Semua mata memperhatikanku. Aku gelagapan, sempat termenung karena bingung sebentar lalu cepat-cepat menjauh dari mesin itu. Oh dear… ternyata di tangan aku ada buku perpus yang kupinjam kemaren. Ibu penjaga itupun mengambilnya dengan tatapan sinis, apakah tampangku terlihat seperti tampang seorang pencuri? Mungkin lebih tepatnya tampang orang bodoh. Haha.. jujur, aku tidak tahu kalau buku yang sudah dipinjam pun tidak boleh dibawa masuk ke dalam perpustakaan.
Dalam beberapa saat termenung itu, dengan mata heran orang-orang tertuju padaku, bukannya malu aku malah bersyukur. Di benakku terlintas kelicikan yang kurencanakan dengan temanku kemaren.
Ceritanya begini, kami putus asa pada kenyataan yang memperlihatkan kalau buku yang kami inginkan berstempel kalimat “tidak dipinjamkan”, lalu, langsung saja otak kami yang memang jahat ini merumuskan rencana bejat. Hehe.. kami berniat membawanya kabur. Tindakan yang pernah dilakukan Khairil Anwar pun jadi pembenar untuk meyakinkan rencana kami ini. Kalian tahu teman kalau Khairil Anwar, salah satu sastrawan terkemuka negeri kita pernah mencuri buku di sebuah toko buku? Hebat bukan?! Rencana kami jadi terdengar sangat membanggakan. Haha.. ditambah desas-desus yang beredar mengatakan kalau mesin itu tidak berfungsi.
Ah, tapi lihatlah sekarang, rumor itu ternyata salah besar. Aku bersyukur karena mengetahui kebenaran dan bersyukur bahwa taktik itu batal kami operasikan. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau 2 orang mahasiswa PBSB ketahuan saat berusaha membawa kabur buku perpustakaan?? Olala..
Semua kejadian itu kuceritakan kepada temanku, awalnya wajahnya mengernyit, mungkin karena prihatin, lalu kemudian tawanya meledak, terbahak-bahak menertawakan ketololanku.
Biarlah, aku tak peduli. Yang kurasakan hanya kesenangan karena mendapat pengalaman yang mengasyikkan. Dan satu lagi, aku sudah tidak sabar ingin mengunjungi perpustakaan tua itu lagi :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar