Sabtu, 03 September 2011

Bintang, Astronomi dan Mimpi

satu-satunya akses ke langit cuma jendela di ujung lorong asrama ini, itupun berteralis besi, mengganggu sekali. langitku tak lagi sama, karena sekarang aku berada di tempat yang berbeda, pikirku. tak ada gemerlap bintang, bulan pun bersinar redup diselimuti awan.

namun sekarang, saat aku berada di tempat yg sama, aku menyadari kalau ternyata langitku memang sudah benar-benar berubah.
***
bertahun-tahun lalu, di malam hari yang terang aku akan sangat menikmati duduk sendiri di pinggir sungai atau di atas keramba ikan yang mengapung di atas sungai sambil mendongakkan kepala ke langit.
selalu dengan reaksi yang sama, impresif. maka aku pun mulai menghitung jumlah bintang, dan ketika hitungan telah mencapai seratus lebih, untuk kesekian kali, aku terhenti. kegiatan pun senantiasa kuganti dengan mencari bintang yang paling terang, sekali2, kutemukan bintang yg cahanya terlihat gemerlapan, memancarkan warna-warni yg berbeda. saat itu hal yang paling kuimpikan di dunia ini adalah, menjadi seorang astronom. aku ingin mengetahui nama bintang-bintang tersebut, menunjukkan jari telunjuk ke langit, melukisnya hingga membentuk rasi-rasi bintang.
***
maka di sinilah aku sekarang, tinggal di sebuah asrama, kuliah di jurusan ahwal syakhsiyah, fakultas syariah. sempat terpikir, darimana dulu aku belajar romantisme itu, romantisme ketika menyaksikan meriahnya langit, padahal ketika itu aku tak lebih dari anak SD berumur sekitar 8-9 thn.
mungkin suatu waktu kau harus meyakini dan terpaksa menerima bahwa mimpi selamanya akan tetap menjadi mimpi, hanya mimpi.
 ***
suatu sore, ketika kenangan itu kembali membanjir.

aku berlari ke kamarku dulu, di lantai atas rumahku, membuka lemari berisi buku2, berusaha mencari sebuah binder yang sangat lekat dengan mimpi itu. binder yg sewaktu MTs selalu menyertaiku, terlebih ke perpustakaan.
kubaca ulang, lembar demi lembar, di dalamnya kutemukan berupa-rupa catatan tentang astronomi juga mitologi yg kusalin dari ensiklopedi tebal yg terdiri dari 9 jilid.
tidak terlalu lengkap, namun cukup membuatku sadar betapa mimpi itu dulu begitu kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar