lebaran telah kulewati dengan cukup baik, kembali mengevaluasi. bukan, bukan soal pahala, tp berapa orang yg sudah kusalami, kumintai maaf.
selalu sama, malamnya diwarnai perdebatan dgn org tua yg memaksaku ikut berkunjung ke rumah-rumah sanak keluarga dan selalu berakhir dengan aku yg mengalah.
malam smpai sepagian hari itu setiap bertemu orang2 aku akan menyodorkan tanganku sambil menyunggingkan senyum di wajah, mungkin senyum palsu, karena di benakku aku trs mengeluh, ''siapa lagi? berapa lagi? sudahkah semuanya? adakah kerabat yg terlewatkan?"
momen itulah yg trs menghantui lebaranku, membuatku tidak betah. aku pun tak tau mengapa aku tak pernah menyukai ide itu, aku muak saat aku harus memasang raut wajah polos, menyalami orang satu per satu dgn senyum terkembang. trus terang jika punya pilihan, aku akan lebih menyukai untuk semalaman dilanjutkan seharian berada di dlm kamar.
well, tepatnya bukan tak punya pilihan, tapi aku akan trs jd sosok yg dikalahkan..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar