Minggu, 04 September 2011

Kakak Masa Kecil

Seperti sebelum-sebelumnya, yg dia lakukan hanya berdiri di luar jendela sambil memperhatikanku mengeja aksara.
Lima menit.. atau sepuluh menit, selama itu pula aku akan terdiam. Adakalanya jika sudah terlalu lama aku akan meminta guru mengajiku untuk menyuruhnya pergi, namun seringkali dia tetap bergeming, memamerkan senyum jailnya dan sedikit sekali saat iya patuh, melenggang pergi, namun tetap dengan senyum yang sama.

Jika beruntung, kadang aku tak menyadari keberadaannya. Sore itu, setelah menutup dan mencium kitab suciku, aku tersenyum menang pada guruku sambil berkata, “kakak hari ini tak ada”. Beliau menjawab, “ada, cuma kau terlalu fokus hingga tak memperhatikannya”.
Meski heran aku tetap tersenyum pada guruku, kali ini senang bercampur malu. Ya, aku memang seorang gadis kecil yg pemalu, hingga tak punya nyali untuk melantangkan suara mengaji di depannya.

Itulah kenangan yang kuingat tentangnya, tentang kakak berkulit putih, berwajah cerdas. Sampai aku lupa kapan terakhir kali melihatnya ada di desa.
Setelah itu aku tak pernah memikirkannya, karena saat itu aku tak lebih dari anak kelas 2 SD yang terlalu asik dengan dunia bermain, yang kutau dia pergi kuliah ke Jakarta.

Hingga bertahun-tahun sesudahnya, di suatu pagi menjelang idul fitri, aku kembali melihat siluetnya. Awalnya aku tak percaya, tapi stelah meyakinkan untuk kedua kali, ternyata itu memang dia. Seketika ingatanku kembali ke masa lalu, dan tiba-tiba saja aku merindukan kenangan kecil itu. Maka jadilah setiap tahun, menjelang lebaran tiba, aku akan mulai mencari-cari sosoknya, tentu hanya untuk melihatnya, karena aku tak pernah berani menyapa, atau sekedar tersenyum padanya. Aku juga sangsi apakah dia masih mengingat dan mengenaliku.

Tak sedikit pencarian itu juga berujung kecewa, seperti lebaran kali ini, dia tak ada. Kudengar kabar kalau dia sudah bekerja di pelayaran, terapung-apung di samudera, singgah di berbagai pelabuhan di dunia.
Dan untuk kesekian kalinya kenangan itu memutar di kepala, menjadikannya semakin tak terlupa.

Sabtu, 03 September 2011

Bintang, Astronomi dan Mimpi

satu-satunya akses ke langit cuma jendela di ujung lorong asrama ini, itupun berteralis besi, mengganggu sekali. langitku tak lagi sama, karena sekarang aku berada di tempat yang berbeda, pikirku. tak ada gemerlap bintang, bulan pun bersinar redup diselimuti awan.

namun sekarang, saat aku berada di tempat yg sama, aku menyadari kalau ternyata langitku memang sudah benar-benar berubah.
***
bertahun-tahun lalu, di malam hari yang terang aku akan sangat menikmati duduk sendiri di pinggir sungai atau di atas keramba ikan yang mengapung di atas sungai sambil mendongakkan kepala ke langit.
selalu dengan reaksi yang sama, impresif. maka aku pun mulai menghitung jumlah bintang, dan ketika hitungan telah mencapai seratus lebih, untuk kesekian kali, aku terhenti. kegiatan pun senantiasa kuganti dengan mencari bintang yang paling terang, sekali2, kutemukan bintang yg cahanya terlihat gemerlapan, memancarkan warna-warni yg berbeda. saat itu hal yang paling kuimpikan di dunia ini adalah, menjadi seorang astronom. aku ingin mengetahui nama bintang-bintang tersebut, menunjukkan jari telunjuk ke langit, melukisnya hingga membentuk rasi-rasi bintang.
***
maka di sinilah aku sekarang, tinggal di sebuah asrama, kuliah di jurusan ahwal syakhsiyah, fakultas syariah. sempat terpikir, darimana dulu aku belajar romantisme itu, romantisme ketika menyaksikan meriahnya langit, padahal ketika itu aku tak lebih dari anak SD berumur sekitar 8-9 thn.
mungkin suatu waktu kau harus meyakini dan terpaksa menerima bahwa mimpi selamanya akan tetap menjadi mimpi, hanya mimpi.
 ***
suatu sore, ketika kenangan itu kembali membanjir.

aku berlari ke kamarku dulu, di lantai atas rumahku, membuka lemari berisi buku2, berusaha mencari sebuah binder yang sangat lekat dengan mimpi itu. binder yg sewaktu MTs selalu menyertaiku, terlebih ke perpustakaan.
kubaca ulang, lembar demi lembar, di dalamnya kutemukan berupa-rupa catatan tentang astronomi juga mitologi yg kusalin dari ensiklopedi tebal yg terdiri dari 9 jilid.
tidak terlalu lengkap, namun cukup membuatku sadar betapa mimpi itu dulu begitu kuat.

Kamis, 01 September 2011

Lebaran dan Tradisi Salam-salaman.

lebaran telah kulewati dengan cukup baik, kembali mengevaluasi. bukan, bukan soal pahala, tp berapa orang yg sudah kusalami, kumintai maaf.
selalu sama, malamnya diwarnai perdebatan dgn org tua yg memaksaku ikut berkunjung ke rumah-rumah sanak keluarga dan selalu berakhir dengan aku yg mengalah.
malam smpai sepagian hari itu setiap bertemu orang2 aku akan menyodorkan tanganku sambil menyunggingkan senyum di wajah, mungkin senyum palsu, karena di benakku aku trs mengeluh, ''siapa lagi? berapa lagi? sudahkah semuanya? adakah kerabat yg terlewatkan?"

momen itulah yg trs menghantui lebaranku, membuatku tidak betah. aku pun tak tau mengapa aku tak pernah menyukai ide itu, aku muak saat aku harus memasang raut wajah polos, menyalami orang satu per satu dgn senyum terkembang. trus terang jika punya pilihan, aku akan lebih menyukai untuk semalaman dilanjutkan seharian berada di dlm kamar.
well, tepatnya bukan tak punya pilihan, tapi aku akan trs jd sosok yg dikalahkan..