Seperti sebelum-sebelumnya, yg dia lakukan hanya berdiri di luar jendela sambil memperhatikanku mengeja aksara.
Lima menit.. atau sepuluh menit, selama itu pula aku akan terdiam. Adakalanya jika sudah terlalu lama aku akan meminta guru mengajiku untuk menyuruhnya pergi, namun seringkali dia tetap bergeming, memamerkan senyum jailnya dan sedikit sekali saat iya patuh, melenggang pergi, namun tetap dengan senyum yang sama.
Jika beruntung, kadang aku tak menyadari keberadaannya. Sore itu, setelah menutup dan mencium kitab suciku, aku tersenyum menang pada guruku sambil berkata, “kakak hari ini tak ada”. Beliau menjawab, “ada, cuma kau terlalu fokus hingga tak memperhatikannya”.
Meski heran aku tetap tersenyum pada guruku, kali ini senang bercampur malu. Ya, aku memang seorang gadis kecil yg pemalu, hingga tak punya nyali untuk melantangkan suara mengaji di depannya.
Itulah kenangan yang kuingat tentangnya, tentang kakak berkulit putih, berwajah cerdas. Sampai aku lupa kapan terakhir kali melihatnya ada di desa.
Setelah itu aku tak pernah memikirkannya, karena saat itu aku tak lebih dari anak kelas 2 SD yang terlalu asik dengan dunia bermain, yang kutau dia pergi kuliah ke Jakarta.
Hingga bertahun-tahun sesudahnya, di suatu pagi menjelang idul fitri, aku kembali melihat siluetnya. Awalnya aku tak percaya, tapi stelah meyakinkan untuk kedua kali, ternyata itu memang dia. Seketika ingatanku kembali ke masa lalu, dan tiba-tiba saja aku merindukan kenangan kecil itu. Maka jadilah setiap tahun, menjelang lebaran tiba, aku akan mulai mencari-cari sosoknya, tentu hanya untuk melihatnya, karena aku tak pernah berani menyapa, atau sekedar tersenyum padanya. Aku juga sangsi apakah dia masih mengingat dan mengenaliku.
Tak sedikit pencarian itu juga berujung kecewa, seperti lebaran kali ini, dia tak ada. Kudengar kabar kalau dia sudah bekerja di pelayaran, terapung-apung di samudera, singgah di berbagai pelabuhan di dunia.
Dan untuk kesekian kalinya kenangan itu memutar di kepala, menjadikannya semakin tak terlupa.
