Minggu, 05 Juni 2011

Cerita Manis di Minggu yang Hangat

"Bapak..." kupanggil bapak di seberang jalan sambil melambaikan tangan.
beliau pun mengerti dan segera mendatangi, lalu...
beliau sodorkan koran itu, Jawa Pos.
*aku memutar bola mata
"Kok tau Pak aku mau beli JP?" tanyaku heran.
"Kan mba'e emang selalu beli ini" beliau menjawab dengan tersenyum.
"Wah, ingat ya Pak?" seraya tertawa.
ya iyalah mba'e..."
"Ya sudah, makasih Pak"
"Sama."

Dialog terhenti, pikiranku kembali ke masa kini.
Pagi ini kembali kutemui Bapak itu dan sekarang aku pun telah mengingat wajahnya. Padahal dulu aku tidak pernah menyadari kalau Bapak yang korannya kubeli itu merupakan orang yang sama. Karena aku kira orang yang berjualan di persimpangan jalan itu selalu berbeda, terlebih aku hanya membelinya setiap Minggu dan terkadang Sabtu.
Pasalnya, cuma dua hari itu aku bisa menikmati udara pagi Kota Surabaya, selebihnya tidak bisa karena ada kelas intensif bahasa yang masuk pada jam 06.00.

Aku selalu menikmti momen-momen itu, ketika aku berjalan atau bersepeda sendiri. Menyapa bapak-ibu atau kakek-nenek yang lalu lalang, atau hanya sekedar menebar senyuman.
Rasanya ingin berkenalan dengan semua orang yang kutemui di jalan.



Pagi yang sejuk, dipenuhi dengan orang-orang yang berhati baik.
Kembali teringat satu momen haru di suatu Minggu.

Uang di dompet tinggal sedikit, terpaksa harus mampir ke ATM dulu. Dan ternyata ATM di kampus sedang tidak bisa digunakan.
Duh, bagaimana ini? Aku tidak biasa meminjam, bahkan untuk menyuarakannya pun aku sangat sungkan.
Ah.. Mustahil di sekitar sini tidak ada ATM lain.
Kuhampiri pos jaga gerbang kampus. Kutanyakan hal ini kepada satpam yang juga sudah lumayan kukenal lewat perbincangan-perbincangan sederhana, pun di Sabtu dan Minggu pagi.
"Pak, di sekitar sini ada ATM lain ga? Soalnya yang di kampus lagi ga bisa digunakan "
"Oh, ada mba, itu di seberang sana, di kampus Ubhara."
"Hm.. di sana ya? Kalau di seberang berarti harus melewati jempatan penyeberangan, lalu sepeda ini kuapakan? Walau hanya sepeda lipat dan ada jalur sepedanya, tetap saja susah menyeretnya menaiki tangga." pikirku.
"Emm... Pak, aku boleh minta tolong nitip sepeda di sini ga?
"Monggo mba'e" jawabnya dengan logat Jawa.
"Makasih ya Pak" kuucapkan dengan tulus sembari tersenyum, lalu kuparkirkan sepeda di tempat yang Bapaknya tunjukkan.
"Ga perlu dikunci kan Pak" tanyaku lagi.
"Iya, ga usah. biar Bapak yang jagain.
 Hehe..

Sampai di seberang, ternyata gerbang kampusnya ditutup. Oh dear... ga mungkin kan kalau aku manjat tu pagar, bisa-bisa nanti ditangkap satpam yang juga berjaga di sana.
Aku pun mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil tetap melangkah perlahan, skeptis harus kemana. Tidak lama, aku berpapasan dengan Bapak yang kalau tidak salah ingat berseragam pegawai pos.
Nekat kutanyakan perihal ini ke bapak itu.
"ada, di sana mba.." jelas beliau sambil menunjuk lurus ke depan.
"ohh, makasih ya Pak." balas q. Trus setelah ketemu aku nyeberang lagi, ambil sepeda di pos satpam, n ngelanjutin perjalanan berburu koran. Pas mau lewat depan expo, ternyata jalan ditutup, sepeda katanya ga bisa lewat. Aku ketemu ibu2 dengan suami dan ketiga anaknya. Ibu itu nyruh aku markir sepeda di dekat motornya. Katanya, biar dia yang jagain karena kukira aku lupa bawa kunci. Eh, setelah dicari2 lagi ternyata ada, saat aku mau ngunci, aku meraba2 tali tas di punggung, karena kesulitan tiba2 ibunya yang masangin tas itu ke tanganku. Aku takjub dengan sikapnya, rasanya dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Yg lebih ajaibnya lagi, ibunya nanyain aku pergi sama siapa, ibuku mana, kenapa ga jagain aku. Speechless, apa aku ga terlihat seperti mahasiswa ya sehingga bersepeda pagi2 gitupun harus bareng ibu??? Haha.. Lucu, tp yg pasti tetap mengesankan bertemu org2 baik di pagi Minggu.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Jumat, 03 Juni 2011

Ibu..

Ibu…
Kasihku terurai lewat goresan tinta,
mengkristal di atas perkamen tanpa warna.
Ibu…
Rinduku meletup-letup dalam dada,
berderai air mata kusenandungkan berbait-bait doa.


Ibu…
Sayangku berupa-rupa upaya,
di setiap derap langkah perjuangan kulukiskan cita,
tuk membuatmu bangga,
membuatmu bahagia,
hingga terbitlah tawa seraya bersabda…
"Lihatlah kalian, ini anakku tercinta."

Ibu…
Dalam jaga imajiku mengelana,
terbang beribu kilometer jauhnya,
hingga kucapai bayangmu dari sudut mata.
Dengan berlari kudekap raga dan kukecup mesra.
Hamburan kata dalam relung jiwa mendesak paksa,
namun, dari bibir tak kunjung keluar suara.
Ia bergeming.
Biarlah kerinduan ini mengalir tanpa kata..Biarlah keheningan menyelimuti kita berdua...