Selasa, 17 Mei 2011

Trending Topic of the Week: DEMO!!

Aku tlah diciptakan, dan suatu saat pasti akan dimatikan.
Aku menyatu dengan kehidupan, menjadi pemain atau hanya sekedar menyaksikan.
Aku punya pilihan.
Aku luluh bersama kejadian demi kejadian, terus menyusut sampai waktuku usai, hingga lenyap ditelan kefanaan.

***

Dan kemarin aku menyaksikan sebuah kejadian baru di depan mataku, yakni DEMO!

Teriakan bersahut-sahutan
Nyanyian menggema, bernada peperangan
Merambat ke sudut demi sudut ruangan
Mengagetkan setiap orang yg sedang hanyut dalam pusaran pengetahuan
Brak! 
Pintu pun membuka
Sang agen masuk
Dengan tatapan tajam menikam setiap orang
Berusaha menundukkan dan menyalakan api yang tersembunyi di balik badan
Namun aku bukan salah satu yg berhasil ditaklukkan.

***

"Mengapa harus dengan demo, teman-teman? Mengapa harus ada teriakan-teriakan? Mengapa harus ada adegan kekerasan –baca: unjuk kekuatan? Apakah para manusia telah melupakan etika hingga kehilangan kontrol atas dirinya?" benakku dipenuhi pertanyaan dan ketidaksetujuan.

Kami mahasiswa dan mahasiswi punya hak untuk menyuarakan aspirasi. Kami tidak rela melihat penyelewengan, dan kami ada untuk membela hak-hak kalian. Dalih mereka.
Aku tau mereka benar, aku tau demo bukan hal yang tabu lagi pada zaman sekarang. Pun jika kita bercermin pada masa lalu bangsa ini juga berbagai peristiwa di negara lain belakangan ini, demo memang merupakan tindakan yang paling efektif untuk memperjuangkan keadilan, menggugat kepemimpinan, serta meruntuhkan sebuah kekuasaan.
Namun bagiku tetap saja hal itu hanya pantas dilakukan saat menghadapi penguasa besar, yang rezimnya melingkupi seantero kawasan. Sedangkan kalau hanya untuk memprotes pelayanan akademik yang katanya tidak sesuai dengan yang dijanjikan, apakah aksi itu tidak berlebihan?
Entahlah… setiap orang mempunyai prinsip yg berbeda. Dan tujuanku menulis ini bukan untuk mencela sesama, aku hanya ingin ikut bersuara, walaupun aku percaya selalu ada jalan damai untuk menyelesaikan perkara. 
Terakhir, jadi teringat satu kejadian konyol, ketika kelas disegel dan kami dipulangkan, aku berjalan beriringan dengan teman-teman, menuruni anak tangga, karena kebetulan kelas hari itu ada di lantai tiga. Lalu tiba-tiba saja serbuan datang dari arah bawah, kami pun lari tunggang-langgang, dengan perasaan shock bercampur takut.

Gillaaa... Kebayang kan gimana lucunynya gan (ngopi gaya kaskuser)?! Setelah itu salah satu temanku berujar, “Olala.. tadi aku serasa berada di kebun binatang, melihat para hewan lepas dari kandang.”

Hening sementara lalu serentak meledaklah tawa.
:D

Ibu, Malaikat yang Dikirim Tuhan Untukku

Jika ibuku disandingkan dengan para Malaikat, para malaikat itu barangkali akan tertunduk lesu, tak sanggup menanggung malu.

Bagaimana tidak, jika mereka yang merupakan makhluk supranatural yang dianugerahi kemampuan spesial dari Tuhan jauh di atas para insan hanya mampu menangani satu kerjaan, sedangkan ibuku? Ah.. walau dia hanya manusia biasa, bukan siapa-siapa, dan barangkali tidak diperhitungkan oleh dunia, namun dia mampu mengambil alih semua tugas mereka, dia ikhlas menyerahkan seluruh hidupnya untuk keluarganya, dan semua itu karena cinta...

Jika Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dan seluruh umat, aku punya ibu yang mengajarkanku hal-hal sederhana namun sangat berharga semenjak balita, ibuku adalah pendidik pertama jauh sebelum guru-guruku.

Jika Mikail bertugas untuk mengatur hujan dan memberikan rezeki untuk penduduk bumi, aku justru merasakan rezeki itu dari tangan ibuku sendiri. Karena dari tangannya terhidangkan beraneka ragam makanan untuk aku dan keluargaku makan setiap hari, belum lagi ketika anaknya yang manja ini sakit, diapun merelakan tanggannya untuk menyuapi.

Jika Malaikat Israfil itu mendapat tugas untuk meniup sangkakala, maka ibuku setiap saat bersuara, menyuruhku untuk mengaji, mengingatkanku untuk sholat tepat waktu, dan beribadah pada Tuhanku. Uh, lebih mulia bukan? Namun berbeda dengan Malaikat Izrail yang bertugas melenyapkan nyawa, ibuku malah melahirkan sebuah jiwa, berupa manusia. Hmm.. perbandingan terbalik ini justru semakin memperlihatkan kehebatan ibuku dibanding malaikat itu, dan membuat semakin tinggi juga pujiku.

Jika Malaikat Munkar dan Nakir menanyai manusia ketika sudah berada di peristirahatan jasadnya nanti, ibuku sekarang pun senantiasa rajni melakukannya, saat kami bersama selalu ada tanya tentang bagaimana hariku berjalan adanya, dan akupun akan bercerita panjang lebar padanya. Lebih menyenangkan dan tanpa beban tentunya, tidak seperti menghadapi malaikat nanti yang pasti akan penuh dengan peluh dan resah.

Lalu ada juga Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas menulis amal kebaikan dan kejahatan. Yaya.. ibuku memang tidak mencatatnya, tapi jelas dia hapal di luar kepala segala sesuatu tentangku, terlebih dia memahamiku. Dan terakhir, Malaikat Malik serta Ridwan, tentu sudah kita ketahui bersama apa tugasnya, menjaga pintu Surga dan Neraka. Oh dear… bahkan tugas ibuku lebih sulit daripada itu, dia menjagaku agar tak akan pernah meski sebelah kakipun menginjak tempat yang bernama Neraka dan selalu menasihatiku dengan kebaikan agar nantinya di kehidupan sesudah mati aku bisa hidup bahagia, abadi di Surga.


Ah.. sungguh wujud cinta yang manis dan indah sekali. Nah, dari semua analogi di atas itu, tidak berlebihan bukan kalau ibu bagiku merupakan malaikat yang sengaja dikirimkan Tuhan untukku!? :)

Sendiri dan Melarikan Diri

Tuhan...
Harus bagaimana ini?
Menghadapi semuanya ataukah melarikan diri?
Melarikan diri? Biasa dlm kamusku, tapi kali ini aku harus menanggung malu..
Menghadapi dengan berani, bermodalkan nekat, karena aku tidak mumpuni juga bukan tindakan yg tepat.


Meminta pertolongan kepada teman, semuanya menghindar...
Kenapa kenyataan ini harus membangunkanku sekarang?


Dalam mimpiku, teman akan selalu mengulurkan tangan kala aku terjatuh.
Teman selalu berada di samping saat kita butuh.
Ternyata mimpiku terlalu jauh...
Hingga kekecewaan ini untuk kesekian kalinya membuatku roboh...


Pada akhirnya, kita memang lebih baik sendiri..


Tuhan,
mengapa tak kauciptakan aku kuat saja, sehingga tak membutuhkan yg lain selain-Mu?

Kamis, 12 Mei 2011

Test, test...
:)
:p
:~
:L


Mulai stres gara2 emoticonnya ga muncul2..
#sigh...

Cape dari tadi browsing, copas, en berulangkali ngedit html, tapi hasilnya NIHIL. :(
Hoahm... (ngantuk) :O

Tapi rasany ingin menulis saja malam ini..
Aku tidak akan membaca buku, karena itu akan membuatku memejamkan mata..
Aku tidak akan merebahkan kepalaku, karena itu akan membuatku tidur tanpa disengaja..

Persoalannya sekarang, apa yang akan kutuliskan? hahaha :D
lagi ga ada ide nih teman2.. :t

Senin, 09 Mei 2011

Aku lelah..
terus berusaha mengejar bayangmu
dan menanti siluet kehadiranmu...


Aku lelah..
menatapmu dalam diam,
dan mengharapkanmu dalam impian...


Aku lelah..
menghadapi ketidakacuhanmu
dan aku bingung untuk mencuri sedikit saja perhatianmu...
Kulukis wajahmu dlm khayalku
kala rindu tak sanggung kukendalikan...


Aku tau,
kau terlalu baik untukku
terlalu sempurna jika dibandingkan denganku...
Namun tak adakah sedikit saja ruang di hatimu untuk diriku?


Kau begitu berkilau di tengah keramaian
setiap gerakmu mengundang decak kekaguman
dan kata-katamu senantiasa mengundang senyum semua orang...


Sedang aku,
makhluk marginal yang ketiadaannya tak dipertanyakan
tingkahnya seolah-olah memalukan
dan selalu mengundang cibiran...


Kita sama sekali berbeda,
kau dengan sejuta pesonamu
lalu aku... dengan segala kekuranganku...
Apakah ini semua tanda bahwa aku tak layak menyimpan rasa untukmu?


Tercipta dari curahan hati seorang teman.

Jumat, 06 Mei 2011

Niat hati ingin menuturkan berbait-bait puisi manis,
namun yg keluar hanya kata-kata tak puitis..
Niat hati inginkan jadi penulis,
tapi sampai sekarang belum juga satu karyapun kutulis..
Niat hati inginkan sikap kritis,
namun yang tampak hanya tindakan ceroboh yang praktis..
Niat hati inginkan punya pengetahuan luas,
ternyata pengetahuan manusia memang terbatas..
Niat hati inginkan cinta, yang hadir malah luka..


Dia hanya gadis biasa,
yang menyimpan berjuta cita di hatinya
berusaha mewujudkan sebisa dirinya..
Tapi godaan itu slalu saja ada,
mengahadang dalam berbagai bentuk rupa..
Seringkali dia terbujuk rayuannya,
hingga kekalahan menampar wajahnya dan menyadarkannya..
Tapi penyesalan itu senantiasa terlambat datangnya,
terakhir hanya bisa memaki dan meratapi diri atas kejatuhannya...

Rabu, 04 Mei 2011

TEMAN (?)

Sekarang aku hanya ingin bercerita saja, menumpahkan segala rasa yang ada di hati...
Ruangan di sekitarku serasa menghimpit,
mencekik,
hingga sulit tuk sekedar bernafas..
Sakit,
melumpuhkan nurani..


Tak pernah terbayangkan di benakku, walau dlm imaji terliarku terlibat dlm suatu masalah dgn teman dekatku.


Hari-hari dirundung duka,
mengambil alih seluruh fokusku..


Kata-katanya terlanjur melukai, prasangkanya sangat menyakiti..
Memang benar ini bukan soal benar dan salah,
untung dan rugi,
seperti yg disuarakan mereka.
Tapi masalah hati yg terlanjur berdarah,
walau sudah dibalut perban, tetap tak mudah untuk disembuhkan..


Benakku bertanya, bagaimanakah nasib persahabatan ini?
Lalu hati menanggapi, degan pean sekali..


Mungkin takkan sama lagi,
akan ada sekat  di antara kami yg menghalangi tangan ini bisa berpegangan erat kembali...

Selasa, 03 Mei 2011

Tenggelam dalam Kekosongan

Aku semakin jengah dengan segala sesuatu yang berpusar di sekelilingku sekarang
asrama, kelas, orang-orang, terlebih pelajaran..
Seandainya pusaran itu benar-benar nyata, aku rela tersedot ke dalamnya.
Menghilang bersama apa yang ada di sekelilingku, lenyap keseluruhan dalam kekosongan
hingga tidak meninggalkan sedikitpun kenangan..
Aku rela terlupakan dan hidup dalam keheningan asal sisa-sisa eksistensiku tak perlu menyakiti orang-orang yang kutinggalkan..


Tulisan ini kubuat untuk menemani kesendirian di tengah keramaian, saat berada di sekeliling teman-teman. 

Senin, 02 Mei 2011

lagi-lagi...
tatapan itu,
penuh kesinisan dan kebencian.
lalu,
dengan kejam kaupalingkan wajahmu, tanpa peduli sedikitpun bagaimana perasaannya.
kecewa, sedih, dan ada sakit.


bukankah kalian berteman?
atau dari sini bisa disimpulkan kalian tlah bermusuhan??


ingin bertanya namun malu, ingin protes tapi lidahnya kelu.
hanya tertunduk bisu...