Aku menyatu dengan kehidupan, menjadi pemain atau hanya sekedar menyaksikan.
Aku punya pilihan.
Aku luluh bersama kejadian demi kejadian, terus menyusut sampai waktuku usai, hingga lenyap ditelan kefanaan.
***
Dan kemarin aku menyaksikan sebuah kejadian baru di depan mataku, yakni DEMO!
Teriakan bersahut-sahutan
Teriakan bersahut-sahutan
Nyanyian menggema, bernada peperangan
Merambat ke sudut demi sudut ruangan
Mengagetkan setiap orang yg sedang hanyut dalam pusaran pengetahuan
Brak!
Pintu pun membuka
Sang agen masuk
Dengan tatapan tajam menikam setiap orang
Berusaha menundukkan dan menyalakan api yang tersembunyi di balik badan
Namun aku bukan salah satu yg berhasil ditaklukkan.
***
"Mengapa harus dengan demo, teman-teman? Mengapa harus ada teriakan-teriakan? Mengapa harus ada adegan kekerasan –baca: unjuk kekuatan? Apakah para manusia telah melupakan etika hingga kehilangan kontrol atas dirinya?" benakku dipenuhi pertanyaan dan ketidaksetujuan.
Kami mahasiswa dan mahasiswi punya hak untuk menyuarakan aspirasi. Kami tidak rela melihat penyelewengan, dan kami ada untuk membela hak-hak kalian. Dalih mereka.
Aku tau mereka benar, aku tau demo bukan hal yang tabu lagi pada zaman sekarang. Pun jika kita bercermin pada masa lalu bangsa ini juga berbagai peristiwa di negara lain belakangan ini, demo memang merupakan tindakan yang paling efektif untuk memperjuangkan keadilan, menggugat kepemimpinan, serta meruntuhkan sebuah kekuasaan.
Kami mahasiswa dan mahasiswi punya hak untuk menyuarakan aspirasi. Kami tidak rela melihat penyelewengan, dan kami ada untuk membela hak-hak kalian. Dalih mereka.
Aku tau mereka benar, aku tau demo bukan hal yang tabu lagi pada zaman sekarang. Pun jika kita bercermin pada masa lalu bangsa ini juga berbagai peristiwa di negara lain belakangan ini, demo memang merupakan tindakan yang paling efektif untuk memperjuangkan keadilan, menggugat kepemimpinan, serta meruntuhkan sebuah kekuasaan.
Namun bagiku tetap saja hal itu hanya pantas dilakukan saat menghadapi penguasa besar, yang rezimnya melingkupi seantero kawasan. Sedangkan kalau hanya untuk memprotes pelayanan akademik yang katanya tidak sesuai dengan yang dijanjikan, apakah aksi itu tidak berlebihan?
Entahlah… setiap orang mempunyai prinsip yg berbeda. Dan tujuanku menulis ini bukan untuk mencela sesama, aku hanya ingin ikut bersuara, walaupun aku percaya selalu ada jalan damai untuk menyelesaikan perkara.
Terakhir, jadi teringat satu kejadian konyol, ketika kelas disegel dan kami dipulangkan, aku berjalan beriringan dengan teman-teman, menuruni anak tangga, karena kebetulan kelas hari itu ada di lantai tiga. Lalu tiba-tiba saja serbuan datang dari arah bawah, kami pun lari tunggang-langgang, dengan perasaan shock bercampur takut.
Gillaaa... Kebayang kan gimana lucunynya gan (ngopi gaya kaskuser)?! Setelah itu salah satu temanku berujar, “Olala.. tadi aku serasa berada di kebun binatang, melihat para hewan lepas dari kandang.”
Hening sementara lalu serentak meledaklah tawa.
:D
